Pages

Sunday, 23 November 2014

Sedya, Sena, Sura : PK LPDP Angkatan 22

16 – 22 November 2014
Wisma Hijau, Cimanggis

Ikatan itu tidak hanya terjalin selama tujuh hari Persiapan Keberangkatan LPDP angkatan 22. Tali persaudaraan itu mulai terjalin tanggal 19 Oktober ketika saya pertama kali tergabung dalam milis angkatan PK 22. SELAMAT DATANG DI KELUARGA BESAR LPDP!

Tanggal 15 November saya berserta rombongan regional bandung berangkat bersama-sama dari ITB menuju Wisma Hijau. Kemacetan bandung yang luar biasa dan hujan pada hari itu menyertai perjalanan kami. Kami pun menyanyikan mars dan menghafal ikrar PK 22 bersama-sama.

Hari pertama dimulai dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan. PK LPDP Angkatan 22 terdiri dari 125 pemimpin masa depan dari seluruh penjuru Indonesia. Pak Mohammad Kamiluddin membacakan tata tertib selama PK dan peserta menandatangani Surat Pernyataan PK. Satu hal yang sangat membekas di hati saya dan begitu terasa di penghujung PK adalah bahwa penting bagi kita untuk menyadari posisi kita dalam kelompok, bahwa terkadang lebih sulit untuk menjadi yang dipimpin daripada menjadi pemimpin. Ikhlas untuk dipimpin adalah pelajaran paling berharga dalam PK 22 ini. Pak Kamil juga menekankan pentingnya respek terhadap waktu, respek terhadap orang lain, serta respek terhadap sistem yang telah dirancang oleh LPDP. Selanjutnya acara dilanjutkan oleh seorang pembicara muda tentang Paradigma SDM Kompetitif dan Berwawasan Global oleh mbak Tantia Dian Permata Indah. Pada malam harinya, acara diisi oleh Bapak Yudhi Latief dengan tema Cendikiawan Muda, Learning Today, Leading Tomorrow. Oleh Beliau, kita semua diajarkan kembali makna penting tentang identitas Bhinneka Tunggal Ika.

Hari selanjutnya adalah pembukaan PK LPDP Angkatan 22 oleh Bapak Eko Prasetyo. Kemudian diisi dengan materi What, Why, and How to LPDP. Selanjutnya, Bapak Misri Gozan memberikan paradigma baru tentang Gagasan Inovatif Karya Ilmiah. Bapak Misri menitipkan pesan kepada kita semua “jangan pernah melihat orang lain, tapi lihatlah jauh apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini 20 tahun ke depan!”
Sesi hari kedua ini ditutup dengan materi dari Bang Zainal Abidin dengan tema Extrarordinary Crativepreneur. Beliau kembali mengingatkan kami bahwa “Hari ini Anda ada disini karena LPDP percaya kepada Anda.” Baiklah Bang, kami akan berusaha! semoga kami tidak mengecewakan LPDP J

Hari-hari selanjutnya kembali diisi dengan berbagai pembicara yang begitu inspiratif, begitu banyak materi disampaikan untuk membuka wawasan kami, menyadarkan kami dari kelalaian, dan mengingatkan kami untuk bahu-membahu membangun negeri tercinta ini. Bapak Warsito Purwo Taruno yang membekali kami dengan wawasan Iptek, Bapak Arief Munandar yang menuntun menjadi Pemimpin Baru yang Kontributif, Bapak Husein Ibrahim yang memupuk idealisme bela negara. Sesi yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika Dik Doang atau Om Ganteng memberikan kami waktu sejenak untuk berkontemplasi dengan diri kami, menyadarkan kami untuk mengabdi kepada Indonesia, untuk berterima kasih atas jasa seorang Ibu, mengingatkan kami akan kesombongan dan kenaifan diri kami, mengingatkan kami untuk tetap menjejak bumi, untuk mengembalikan apa yang telah Indonesia berikan tanpa pamrih, bolehlah kami pergi ke segala penjuru dunia untuk kembali membangun bangsa ini.

Oh ya, salah satu yang paliiiing berkesan adalah Sharing Insprirational Class di hari ke-3. Pada hari itu, kelompok 7 Hasyim Asy’ari berkunjung ke SMK Informatika di Depok. Pada awalnya kami disana bertujuan untuk memberikan insiprasi dan motivasi untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, namun pada akhirnya, justru kami lah yang mendapat inspirasi dari mereka. Siswa disana berasal dari kalangan dhuafa, namun mereka memiliki semangat dan optimism yang luar biasa. Kakak-kakak doakan semoga kalian bisa memenggapai mimpi kalian masing-masing ya!!

Di hari ke -4 sebelum sesi dimulai kami melaksanakan upacara bendera. Sound crazy, lebih lima tahun saya gak pernah melaksanakan upacara bendera. That was huge and I enjoyed every single second, menyanyikan Indonesia Raya sambil hormat kepada Sang Merah Putih itu benar-benar nostalgia rasanya.

Well, untuk hari ke lima, which was really awesome, sudah saya post sebelumnya ya. Dan untuk hari ke 6, team panitiak PK 22 mendatangkan Rangga Almahendra dan Hanum Rais yang menuliskan buku 99 Cahaya di Langit Eropa, and im sure, you guys- that admire this sweet couple- must be very jealous, yes again, im lucky J

Kemudian sesi yang mungkin paling bermanfaat bagi orang-orang seperti saya yang tidak banyak tahu tentang mekanisme pencairan dana beasiswa BPI LPDP, sesi yang diisi olen Ibu Ratna Prabandari dan Bapak Lukmanul Hakim ini menjelelaskan secara gambang berbagai persoalan teknis dan membuka forum tanya jawab, dan yaa, waktu yang disediakan panitia tidak pernah cukup kayaknya kalau mau menampung semua pertanyaan kami :p  hehe

Malamnya, kami diajak untuk mendekatkan diri dengan lambang negara ini, Refleksi Merah Putih oleh Fahrizal Muhammad, disana kami diminta untuk membisikkan janji kepada Bendera Pusaka ini, “aku akan kembali” hal itu bukan hanya janji kepada selembar kain. Itu janji kepada diri sendiri, kepada lebih dari 250 juta penduduk Indonesia yang berkontribusi menyekolahkan kami, memberangkatkan kami ke seluruh penjuru dunia dari hasil keringat mereka, dari keikhlasan mereka membayar pajak. Ya, anak-anak negeri ini akan membalas jasa-jasa rakyat Indonesia. Kami akan kembali.


Hari terakhir adalah upacara penutupan. 7 hari yang diawali dengan berbagai kecemasan akan seperti apa PK ini, akan bagaimana kami melewatinya. Tapi di hari ke-7, rasanya semua berlalu terlalu cepat. Team panitia menyadari betul kekejaman mereka mempertemukan kami untuk dipisahkan kembali. Tapi tali silaturahmi tidak diukur dari frekuensi tatap muka. Saya percaya bahwa persaudaraan ini akan tetap ada. Saya percaya, mungkin bukan di PK lainnya, tapi kami akan dipertemukan dengan keluarga LPDP di belahan lain di Bumi ini. Drama musikal bertema “Semangat Kepemudaan” sukses dirayakan. Ditutup dengan flash mob dari semua peserta. Terima kasih untuk kebersamaan ini. Terima kasih untuk Kelompok 7 Hasyim Asy’ari yang menyabet penghargaan Team Futsal Terbaik. Sani, Mariska, Bang Omar, Dimas, Duo Dani, Dhoni, Titik, Pak Ilham, Pretty, Sarahi, bu Leni, Farabi, Pak Lukman, dan kakak pendamping terbaik Mas Hasan! We’re COOL TEAM! Terima kasih untuk Pak Kamil dan team PK yang sudah membimbing kami. Untuk Pak Eko dan jajaran Direksi LPDP. Terima kasih untuk kesempatan berharga beserta pembelajarannya, semoga kami dapat memenuhi harapan untuk menjadi pemimpin masa depan yang berkontribusi untuk pembangunan Indonesia! PK-22 Sedya, Sena, Sura!

Thursday, 20 November 2014

Day Five - PK LPDP Angkatan 22

Indonesia merah darahku
Putih tulangku
bersatu dalam semangatku..
Gebyar-gebyar pelangi jingga..

Here i'am. actually, 1.36 am is sixth day. hehe
dengan backsound temen-temen yang lagi latihan drama musikal buat penutupan hari sabtu.

tapi mau cerita tentang hari ke lima. rombongan PK LPDP angkatan 22 berangkat dari wisma hijau jam 01.00 dini hari, heading secret place (which we were all already knew). Yak, pukul 04.00 kita sampe di Lembang yang dingiiiin banget.

Hari ini semua kegiatan outdor. mulai dari pagi olahraga pagi, presentasi yel-yel kelompok, fun games. semua rangkaian unshakable mentality race ini terdiri dari games yang dibuat panitia, untuk ngeliat kekompakan semua kelompok. kemudian outbound trus ditutup dengan paintball yang supeerr cool!

really proud being part of this big family. Hari kelima. 2 days remaining.
gak kerasa rangkaian acara mulai dari awal pembukaan, beberbagai pembicara di seminar yang luaar biasa.. banyak kejadian kocak, misalnya ketiduran dan bolakbalik dibangunin temen sekelompok. sampe nangis nangis waktu Dik Doang jadi pembicara, ah, tepatnya inspirator :)

kami semua, mulai dari aceh sampai ujung papua. mulai dari yang masih tinggal di Indonesia sampai yang stay di luar negeri, dari yang muda banget produksi kelas akselerasi sampe yang udah pada berkeluarga. ilmuan, dosen, insinyur, psikolog, dokter, militer, semua bergabung disini. Kami semua menjadi bagian dari Keluarga Besar LPDP. Keluarga yang memiliki visi dan misi yang menabjubkan dengan satu citi-cita, membangun Indonesia.

oh God im sleepy, catch you all on the next story.
well guys, hope we can do our best on Saturday. Keep rockin'!

Monday, 20 May 2013

Window Shopping and Shopaholic Things


Ok, kali ini kita gak akan bahas teori, kali ini gue akan membahas my own perspective berdasar teori campur campur pengalaman pribadi :D its alot of girl things..

Window shopping adalah saat lo jalan jalan (or maybe browsing, the web to web),  cuci mata tapi gak ada tujuan yang jelas, such a leisure activity, bisa cuma liat liat atau berujung beli barang yang ada. FYI, ini sangat berbahaya bagi orang konsumtif yang gak kuat iman. Emang keuntungan yang di dapet adalah lo bisa lucky nemu barang bagus yang diskon cuma di hari itu, tapi kemungkinan yang lebih besar adalah lo bisa ngeborong barang-barang yang gak penting sama sekali.

Cliché quote nya adalah “bedakan keinginan dan kebutuhan”, kalo Cuma sekedar ‘ingin’ tapi gak ‘butuh’, sebaiknya barang tersebut gak usah dibeli. I repeat, thats CLICHÉ ! kadang kalo lagi window shopping, kita bisa aja liat barang, misalnya sepatu, harga murah, dan kita bisa “tiba-tiba butuh”, sekali lagi, bagi orang yang gak kuat iman menahan godaan barang bagus dengan harga miring 70 derajat, kita bisa langsung memproses berbagai alasan untuk “tiba-tiba butuh”, e.g: oh iya sepatu gue kan udah hampir jebol (langsung nginget barang-barang dirumah) ~ Oh iya, gue kan belom punya warna yang itu, bisa kali di match sama baju gue yang itu~ Oh iya untuk kondangan besok gue gak ada sepatu nya ~ Oh iya untuk acara formal kan harus pake sepatu kayak gitu~ Oh iya… ~oh iya… bla bla bla.  Ya, cewek kadang- kadang bisa lebih jago bikin alesan daripada playboy professional. Jadi “bedakan keinginan dan kebutuhan” itu suatu quote yang bisa dikalahin dengan “tapi kan gue emang butuh, karena… bla bla bla”.

Prinsip nya dari windows shopping adalah: LIHAT -> BUTUH. Karena liat-liat jadi pengen, karena pengen jadi nyari-nyari alesan biar butuh, kalo udah butuh, ya dibeli. Yak selamat, Anda berhasil boros, kawan J

So, dengan senang hati gue akan membedakan antara kebutuhan menjadi beberapa tipe. Pertama kebutuhan ya emang butuh sih tapi kalo gak ada itu your life still goes on kok, ini kayak aksesoris, atau gradasi warna  kerudung, baju, sepatu. Lo gak akan bolos kuliah karena gak ada sepatu yang match sama kerudung warna toska lo, atau lo gak akan dipecat gara-gara tas sama baju lo nabrak nabrak. Lagian hari gini emang lagi tren blocking color, tapi ini juga jangan dijadiin alesan buat koleksi semua warna cuma karena mau berkreasi.

Kebutuhan menengah, yaitu kebutuhan yang suatu saat akan dibutuhkan tapi bukan sekarang, bisa beberapa bulan ke depan. Misalnya mau PPL pasti perlu sepatu formal, baju formal buat ngajar, atau up coming event kayak kondangan, wisudaan, acara perpisahan dll. Ini bisa dibeli, namun lebih baik dibeli saat udah mau deket-deket evenya biar tujuan semakin jelas, cause in fact, kadang kita mikir bakal butuh barang itu tapi ternyata nggak.  Coba deh lo di tengok ada gak tuh barang yang udah lama dibeli tapi belom dipake sampe sekarang karena dulu mikirnya butuh tapi ternyata saat yang tepat untuk makenya gak perna tiba.

Dan yang terakhir adalah kebutuhan urgent—masalah keberlangsungan kehidupan lo sebagai manusia normal pada umumnya, misalnya beras abis, gak mungkin lo gak makan atau nunda makan 2hari kedepan. Sabun mandi abis, gak mungkin lo gak mandi seminggu, ato sabunan pake sampo, itu udah butuh sabun bgt! Jadi sebisa mungkin inilah yang lo perioritaskan.

Berhemat yang baik adalah menekan kebutuhan yang pertama, dan menjaga keberlangsungan kebutuhan urgent. Salah kalo lo ngirit makan untuk beli baju model terbaru, bisa banget lo nanti jadi cewek fashionable yang malnutrisi. Atau cewek modis yang bau ketek karena belom beli deodorant. Ewwwwwh

Oh iya, kemaren ngobrol sama senior yang udah berumah tangga, ada saran dari dia, yah walau agak klise tapi gue baru bener-bener menyadari nya: hindari memutari seluruh lorong di supermarket saat belanja. Ya tadi, kita bisa “tiba-tiba butuh”. Dan kalo udah di tempat belanja langsung ke tempat barangnya. Make a list and straight to the point!

Tapi bagi orang kayak gue yang males bikin daftar belanjaan, muterin lorong adalah semacem pengingat, kalo gue liat barangnya gue inget kalo itu barang yang mau gue beli. Yah cara ini bisa dipake kalo lo berkali-kali bertanya ke diri lo sebelom masukin barang ke troli “bener-bener butuh gak? Butuhnya sekarang? Ato bulan depan juga bisa beli nya? (Atau) gak beli ini juga gak papa kali ya?”

Last, ayo tingkatkan self awareness kita, sadari kalo diri kita sudah terlalu boros dan kurang berbagi. Hemat ya! sodaqoh jalan teruss J

Special quote untuk orang-orang yang berusaha berbagi dengan orang lain dan mencukupkan diri sendiri (tidak berlebih lebihan): Cukuplah tangan yang menggengam harta, jangan hati..

Monday, 29 October 2012

Mitologi PSYCHE


“Dunia” kita dinamakan psikologi sebagai penghormatan pada tokoh mitologi Yunani, Psyche, yang berarti jiwa dalam bahasa Yunani dan Latin. Psyche adalah putri bungsu seorang maharaja. Kecantikan lahir batinnya membuat banyak manusia dari segenap penjuru dunia rela menempuh perjalanan panjang sekedar untuk mencuri pandang dan mengaguminya. Venus selaku dewi kecantikan pun iri padanya karena pemujian manusia terhadap Psyche melalaikan mereka dari pemujaan terhadap Venus. Venus kemudian meminta anaknya, Cupid sang dewa cinta, untuk membuat Psyche terjatuh cintanya pada mahluk paling menjijikkan di dunia.

Cupid pun merekayasa orang tua Psyche untuk meninggalkan Psyche di sebuah puncak bukit dimana ia akan ditunangkan dengan seekor ular  buruk rupa lagi keji tak tak terperi. Psyche meratapi nasibnya namun pasrah pada takdir karena meskipun ia cantik namun saat itu tak satupun manusia yang jatuh cinta padanya dan tampaknya hanya ular itulah yang bersedia berbagi hidup dengannya. Karena kesibukannya Venus pun mulai melupakan Psyche. Sementara itu Cupid  yang terpana melihat kecantikan Psyche tanpa sengaja tergores  anak panahnya sendiri. Anak panah Cupid mengandung cairan racun  yang amat licin sehingga mampu menggelincirkan cinta seseorang. Cupid jatuh cinta pada Psyche. Tinimbang membawa Psyche pada monster, Cupid membawanya ke istana Cupid dan memperistri Psyche. Karena Psyche bukanlah dewi maka Cupid tidak memberi Psyche kesempatan untuk mengetahui jati diri Cupid atau bahkan sekedar melihat rupanya. Cupid hanya mendatangi Psyche ketika malam melarut dan meminta Psyche bersumpah untuk tak kan memandang wajahnya. Bersama Cupid, Psyche hidup dalam kebahagiaan berselimut misteri.

Saudari-saudari Psyche iri melihat kemegahan istananya dan berkonspirasi untuk menghancurkan kebahagiaannya. Mereka menghasut Psyche dengan menyatakan bila suaminya sangat merahasiakan identitas dan penampilannya maka pasti ada sesuatu yang salah dengan suaminya. Akhirnya Psyche tak mampu lagi menanggung ketidakpastian jati diri dan rupa suaminya. Suatu malam ketika Cupid tidur maka Psyche mengendap-endap membawa lampu teplok untuk melihat rupa Cupid. Betapa terkejutnya Psyche ketika bukan monsterlah yang ditemuinya melainkan seorang tampan yang setampan-tampannya hingga kata tampanpun tak mampu lagi mewakili ketampanannya. Tangan Psyche terkulai gemeletar.  Kegemetaran itu membuat semprong dan minyak lampu teplok tumpah dan membakar dada bidang Cupid. Ketika Cupid bangun dan mendapati istrinya melanggar sumpah  ia pun bergegas pergi.

Dalam derita batin karena melanggar sumpah, melukai Cupid, dan kehilangan Cupid, Psyche bersumpah akan membuktikan pada Cupid how much she loves him dengan menghabiskan sisa hidupnya mencari Cupid. Dia memohon pertolongan pada semua dewa namun tak satupun membantu karena takut dimurkai Venus. Akhirnya dalam keputusasaannya ia memohon pertolongan Venus.

Dasar anak mami, Cupid mengadu pada ibunya dan memintanya untuk menghapus lukanya. Ketika Venus mendengar Cupid menikahi Psyche dan Psyche menghianati sumpahnya maka Venus berniat menghukum berat Psyche. Saat Psyche memohon ampunan pada Venus maka Venus mencercanya dan menyatakan bahwa keampunan hanya dapat didapatkan setelah Psyche menunaikan beberapa tugas. Tugas-tugas tersebut mustahil untuk ditunaikan namun Psyche berharap dalam usahanya memenuhi tugas ia akan berjumpa kembali dengan cintanya yang hilang. Dalam ujian pertama Venus mencampur biji-bijian, tepung dan jewawut dalam satu ember dan memberi Psyche waktu hingga tengah malam untuk mengelompokkan masing-masing butiran halus tersebut. Psyche nyaris putus asa namun sekelompok semut yang terharu melihat sungai air mata di lembut pipinya membantunya mengklasifikasikannya. Melihat hal itu  tambah murkalah kemarahan Venus.

Venus kemudian memberikan tugas yang lebih mustahil seperti mengambil bulu berwarna emas dari domba putih yang galak dan mengambil air hitam dari jernihnya Sungai Styx yang memisahkan alam dunia dan akhirat. Sekali lagi atas bantuan pihak ketiga Psyche mampu menunaikannya. Akhirnya Cupid yang telah sembuh dari luka fisiknya ingin membalut luka batinnya akibat kerinduan pada Psyche dengan menemui Psyche dan meyakinkannya bahwa pencariannya telah berakhir. Cupid ingin balikan dengan Psyche sehingga ia meminta Jupiter, Dewa dari segala dewa, untuk mengangkat pangkat Psyche menjadi dewi. Setelah melalui sidang General Assembly Perserikatan Dewa-Dewa (PDD) maka Sekretaris Jendral Jupiter mengangkat Psyche sebagai dewi dan meratifikasi pernikahan Cupid Vs Psyche. Venus pun ikut senang karena putranya yang manja itu mendapat pasangan yang sepadan terlebih lagi jika Psyche berdomisili di Surga  maka umat manusia di bumi tidak terganggu lagi konsentrasinya untuk memuja Venus.

Keingintahuan Psyche dan pencariannya terhadap pengetahuan (tentang jati diri dan rupa Venus) dan cinta merupakan symbol semangat keingintahuan kita terhadap manusia dan kemanusiaan. Kisah Psyche merupakan contoh dari pelbagai fenomena yang ingin kita pelajari: rasa ingin tahu, kedengkian, altruisme, ketabahan dan tentu saja, Cinta.

Di atas segalanya kisah tersebut adalah symbol bahwa apa yang ingin kita pahami mungkin tidak akan sepenuhnya tertangkap namun ada satu hal yang tidak dapat dirampas dari diri kita: the human spirit. Sesukar apapun Psyche tetap bertahan dalam pencariannya terhadap hal yang akan melengkapkan jiwanya. Love and soul…had sought and, after some trials,found each other, and that union could never be broken (Hamilton in mythology, 1942) 

Diterjemahkan secara hiperbolis dari In Search of Human Mind (Sternberg, 1998)

Dalam Bahasa Yunani, kata "psyche" selain bermakna "jiwa", juga berarti "kupu-kupu." Kupu-kupu merupakan simbol alam dari transformasi dan perkembangan yang luar biasa, sebagaimana ungkapan dalam Bahasa Inggris: "Just when the caterpillar thought the world was over, it became a butterfly." Semoga kita selaku pegiat psikologi dapat mendukung para "caterpillar" untuk bersabar menjalani metamorfosis, melalui berbagai masalah, tantangan dan pembelajaran, sebelum akhirnya menjadi "butterfly" yang indah dan dapat terbang mengangkasa.


Copied from: 
Ibnu Mundzir <imundzir@yahoo.com> <psiindonesia@yahoogroups.com>

Begitulah sekilas tentang mitologi asal kata psikologi yang diambil dari kata psyche. Anyway, nama blog ini juga diambil dari kata psyche, karena dalam bahasa Indonesia, maka ditulis psike . Sedangkan kata sophia diambil dari nama saya Sofia dan juga dari bahasa yunani σοφία / sophia yang berarti kebijaksanaan . Cheers :)

Sunday, 24 June 2012

Pembunuh Berantai dalam Perspektif Psikologi



 Oleh : Indah Novianti, M. Yudha Firas, Sofiana Millati

A.       Pendahuluan
Sebagai masyarakat modern, kita dibombardir dengan gambar dan konsep tentang pembunuh berantai. Apakah ada di film, serial televisi, dan terburuk dari semua berita menampilkan pembunuhan berantai.  Tak hanya di luar negeri saja maraknya pembunuhan berantai, di indonesia pembunuhan berantai  sedang marak-maraknya. Sungguh menabjubkan seseorang dapat membunuh banyak orang tanpa rasa bersalah.
Berbagai modus yang diungkap sehingga tersangka melakukan pembunuhan berantai. Uang, cinta hingga rasa sakit hati merupakan salah satu dari sekian banyak modus yang di gunakan tersangka untuk melakukan pembunuhan berantai. Berikut akan dijelaskan beberapa defines serta tipe- tipe dari pembunuh berantai dari sudut pandang psikologi.

B. Kajian Teoritis
Pembunuh Berantai
Menurut definisi sudut pandang kriminal, pembunuh berantai adalah seseorang yg membunuh satu orang atau lebih dengan rentang waktu tidak membunuh selama 30 hari atau lebih di antaranya. Motivasi pembunuh berantai umumnya murni dari dalam dirinya sendiri, bukan paksaan atau bujukan dari orang lain. Para pembunuh berantai sendiri umumnya adalah orang yg tersingkirkan atau sengaja menarik diri dari lingkungannya. Karena itu, pembunuh berantai sering diidentikkan dengan perilaku antisosial. Akibat menarik diri dari lingkungan, mereka tumbuh menjadi pribadi yg egosentris & tidak punya rasa empati pada orang lain. Pada pembunuh berantai yg menjurus psikopat, ia berpikir bahwa nyawa hewan tak ada bedanya dengan nyawa manusia, sehingga sering menunjukkan sifat tidak menyesal usai membunuh .
Para pembunuh berantai secara khusus didorong oleh berbagai alasan psikologis, terutama tekanan (complusion) kekuasaan dan seksual. Mereka umumnya memiliki kekuarangan dan ketidakberhagaan, kadang-kadang mengalami penghinaan, bullying, dan pelecehan (abuse) pada masa kecilnya serta tekanan kemiskinan dan status ekonomi yang rendah di saat dewasa. Dalam banyak kasus, para pembunuh berantai melakukan kejahatan untuk mengkompensasi faktor-faktor tersebut dan meberikan rasa memiliki potensi dan sering melakukan balas dendam dengan memberikan mereka sebuah perasaan berkuasa, baik pada waktu melakukan pembunuhan maupun sesudahnya.
Sebagian pembunuh berantai menunjukkan satu atau lebih dari apa yang dikenal sebagai “tiga serangkai MacDonald (MacDonald triad)” tanda peringatan pada masa kecil, yakni:
Mulai membakar, atau selalu membakar rumah, untuk merasakan kegairahan saat menghancurkan sesuatu, untuk menarik perhatian, atau untuk membuat si pelaku merasa lebih kuat.
Kejam terhadap binatang (berkaitan dengan zoosadisme). Banyak anak-anak mungkin kejam terhadap binatang, misalnya menarik lepas kaki laba-laba. Tapi orang yang kelak menjadi pembunuh berantai sering membunuh binatang yang lebih besar, misalnya anjing dan kucing, dan sering kali demi kenikmatan sendiri, bukan untuk mengesankan teman-teman sebayanya. Dan yang terakhir adalah mimpi basah di usia yang sudah lewat dibanding anak-anak normal.

Dua Tipe Pembunuh Berantai
Sejumlah besar pembunuh berantai akan menunjukkan aspek-aspek tertentubaik tipe terorganisasi maupun tidak terorganisasi, meskipun biasanya karakteristik salah satu lebih dominan. Sebagai pembunuh turun dari perilaku terorganisasi menjadi tidak terorganisasi ketika mereka terus melakukan pembunuhan. Pada awalnya mereka terus melakukan pembunuhan dengan hati-hati dan metodis, tapi menjadi ceroboh dan implusif ketika tekanan terhadap hidup mereka makin besar.
Namun FBI umumnya mengelompokkan pembunuhan berantai ke dalam dua tipe yang berbeda:
1.  Pelaku terorganisasi/nonsosisal, biasanya sangat cerdas, memiliki IQ di atas rata-rata (>100), dan merencanakan kejahatan mereka dengan sangat metodis, biasanya menculik korban-korbannya, membunuh mereka di satu tempat dan membuang mayatnya di tempat lain.
2.    Pelaku tak terorganisasi/asosial, biasanya memiliki kecerdasan yang rendah, IQ di bawah rata-rata (<90), dan melakukan kejahatan mereka dengan menuruti kata hati (implusif).

Lima Motif Pembunuhan berantai
Motif-motif pembunuhan berantai bisa dibagi ke dalam lima kategori yang berbeda, meskipun sejumlah pembunuh berantai memperlihatkan karakteristik lebih dari satu tipe. Berikut adalah motif pembunuhan berantai:
·         Visioner
Herbert Mullin membunuh 13 orang setelah dia mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa pembunuhan diperlukan untuk mencegah Carlifornia dari serangan gempa bumi. Mullin bersusah payah untuk “menunjukkan” bahwa California benar-benar terhindar dari gempa bumi selama dia melakukan rangkaian pembunuhan.
Ed Gein membunuh dua perempuan (atau lebih, jumlah tepatnya tidak diketahui) yang memiliki kemiripan dengan ibunya. Dia juga menggunakan daging dai mayat-mayat perempuan yang digali untuk membuat sebuah “setelan perempuan”  (juga berbagai perhiasan rumah seperti gorden dan kap lampu) untuk dirinya sehingga dia bisa “menjadi” ibunya. Setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga mental selama sisa hidupnya.

·         Misioner
        Para pembunuh yang tergolong misioner percaya bahwa aksi mereka dibenarkan dengan dasar bahwa mereka sedang membersihkan tipe manusia tertentu (seringnya para pelacur atau anggota etnis tertentu), dan demikian melakukan kebaikan bagi masyarakat.

·         Hedonistis
     Pembunuh tipe ini membunuh demi kesenangan belaka, meskipun aspek apa yang membuat mereka senang bermacam-macam. Ini tipe paling umum pembunuh berantai yang digambar dalam film horor, thriller psikologis, dan lain-lainnya. Pernyataan Yang Xibhai setelah ditangkap adalah tipikal sikap pembunuh demikian: “Ketika saya membunuh seseorang, saya memiliki keinginan untuk membunuh lagi. Keinginan itu mengilhami saya untuk membunuh lebih banyak. Saya tak peduli apakah mereka layak hidup atau tidak. Itu bukan urusan saya.” Sebagian pembunuh mungkin menikmati fase “memburu” atau “memancing” dan menjerat korban lebih dari segalanya, sedangkan sebagian lain mungkin terutama didorong oleh aksi penyiksaan dan perlakuan  kejam terhadap korban ketika masih hidup.

·         Didorong Keuntungan
      Sebagian besar penjahat yang melakukan pembunuhan berantai dengan tujuan materi (misalnya para penembak mafia), tidak dimasukkan ke dalam klasifikasi pembunuh berantai. Sebab mereka didorong oleh perolehan ekonomi, bukannya desakan psikopantologis. Namun hanya ada garis tipis yang membedakan para pembunuh ini. misalnya, Marcel Petiot, yang berpotensi di Prancisyang diduduki Nazi, bisa diklasifikasikan sebagai pembunuh berantai. Dia berpura-pura menjadi anggota French Resistance dan memikat orang-orang kaya Yahudi datang ke rumahnya, mengklaim bahwa dia bisa menyelundupkan mereka keluar dari negara itu. Alih-alih, dia membunuh mereka dan mencuri kekayaan mereka, membunuh 63 orang sebelum akhirnya ditangkap.

·         Kekuatan dan Kontrol
       Tujuan utama mereka membunuh adalah meraih menggunakan kekuatan atas korban mereka. Para pembunuh seperti ini kadang-kadang disiksa ketika anak-anak, dan memiliki perasaan yang lemah dan tidak cukup ketika dewasa. Banyak pembunuh yang didorong-kekuatan/kontrol secara seksual menyiksa korbannya, tapi berbeda dengan pembunuh hedonistik. Ketika memperkosa mereka tidak didorong oleh nafsu, melainkan oleh bentuk lain dominasi terhadap korban.

c. Kesimpulan
Dalam perspektif psikologis, beberapa kasus pembunuhan berantai menjurus pada gangguan mental, misalnya skizofrenia. Ketika seseorang yang melakukan pembunuhan berantai dan didiagnosis mengidap suatu gangguan kejiwaan maka ia akan lepas dari berbagai tuntutan hukum. Ia tidak akan menjadi penghuni penjara, melainkan rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan mental.
Pada cotoh kasus Ed Gein, setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga mental selama sisa hidupnya.
Dalam persidangan kasus- kasus pembunuhan berantai saksi ahli, seperti psikiatri, psikolog forensic, didatangkan ke meja hijau untuk memberikan keterangan apakah seseorang tersebut mengidap gangguan jiwa atau tidak. Ini bukan merupakan hal yang mudah, serangkaian tes psikologis harus dilakukan untuk membuktikan apakah tersangka memenuhi diagnosis gangguan kejiwaan ataukah “berpura pura gila” untuk menghidari tuntutan hukum. Bagi keluarga korban, tidak adil apabila seseorang yang telah melakukan pembunuhan berantai yang kejam tidak mendapatkan hukuman penjara atau hukuman mati justru mendapatkan perawatan khusus di bangsal rumah sakit jiwa. Oleh sebab itu, pemahaman akan berbagai perspektif dibutuhkan baik untuk masyartakat, maupun keluarga korban.

Sumber:
Aksan, Hermawan. 2008. Kasus-Kasus Pembunuhan Berantai di Indonesia dan di Dunia. Jakarta: PT Grafindo media Pratama
Fulero, Solomon., Wrigthsman, Lawrence. 2009. Forensic Psychology. Belmont: Wadsworth
Petrel. 2008. “Artikel seputar pembunuh berantai”. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=14814.50. 19 Juni 2012

Friday, 16 March 2012

Sense of Control

Tindakan orang tua pada masa kanak- kanak awalnya tampak berhubungan dengan diperolehnya sense of control atau perasaan mampu mengontrol. Secara umum, tampaknya orang tua berinteraksi dengan anaknya secara sangat positif dan dapat diprediksi memiliki fungsi penting. Ini dilakukan dengan merespons kebutuhan mereka, terutama ketika anaknya mengomunikasikan kebutuhan- kebutuhannya, terutama kebutuhan akan perhatian, makanan, mengatasi rasa takut dst.

Para Orang tua ini mengajarkan kepada anak- anaknya bahwa mereka memiliki kontrol terhadap lingkungannya dan respons mereka memiliki efek pada orangtua dan lingkungan mereka. Selain itu, para orangtua yang membiarkan anaknya mengeksplorasi dunianya dan mengembangkan keterampilan- keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai kejadian yang tidak diharapkan membuat anak- anaknya mampu mengembangkan sense of control yang sehat.

Agaknya, yang penting adalah bagaimana memberikan "rumah yang aman" bagi anak- anak Anda, dimana Anda selalu ada ketika anak- anak membutuhkan Anda selama mengeksplorasi dunianya (Chorpita & Barlow, 1958)

Sebaliknya, orang tua yang selalu melindungi, terlalu intrusif dan selalu "memuluskan jalan" yang harus dilalui anak- anaknya, dan tidak pernah memberikan kesempatan pada mereka untuk mengalami keanekaragaman, berarti juga menciptakan situasi dimana anak- anaknya tidak pernah belajar tentang cara mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Dengan demikian, anak- anak itu juga tidak tahu bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengontrol lingkungannya.

Perasaan mampu mengontrol yang berkembang dari pengalaman- pengalaman awal ini merupakan faktor psikologis yang membuat kita sangat rentan terhadap kecemasan di kehidupan kita selanjutnya.

Source: 
Intisari Psikologi Abnormal, Edisi Keempat, Buku Satu
V. Mark Durand & David H. Barlow
Yogyakarta: Pustaka Belajar
2006

Pola Asuh Patogenik

Salah satu penyebab gangguan jiwa adalah Pola Asuh Patogenik, dimana pola asuh patogenik memiliki beberapa ciri, antara lain:
1.Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
2. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”
3. Penolakan (rejected child)
4. Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
5. Disiplin yang terlalu keras
6. Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan
7. Perselisihan antara ayah-ibu
8. Perceraian
9. Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya
10. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
11. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
12. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)

Dengan menghindari berbagai kriteria pola asuh patogenik, diharapkan individu atau seorang anak dapat tumbuh dengan mental yang sehat dan terhindar dari berbagai kecenderungan gangguan jiwa. Orang tua seharusnya lebih mawas diri dan belajar mengasuh anak dengan pola yang tepat, yang tidak menimbulkan dipedensi berlebih ataupun terlalu mengabaikan anak. Cintailah anak Anda dengan cinta yang cukup, dan didiklah anak anda untuk dapat mandiri dan menjadi pribadi yang berani menghadapi segala permasalahan hidup dengan kekuatannya sendiri (^_^)