Oleh : Indah Novianti, M. Yudha Firas, Sofiana Millati
A. Pendahuluan
Sebagai masyarakat modern, kita dibombardir dengan gambar dan konsep
tentang pembunuh berantai. Apakah ada di film, serial televisi, dan terburuk
dari semua berita menampilkan pembunuhan berantai. Tak hanya di luar negeri saja maraknya
pembunuhan berantai, di indonesia pembunuhan berantai sedang marak-maraknya. Sungguh menabjubkan
seseorang dapat membunuh banyak orang tanpa rasa bersalah.
Berbagai modus yang diungkap sehingga tersangka melakukan pembunuhan
berantai. Uang, cinta hingga rasa sakit hati merupakan salah satu dari sekian
banyak modus yang di gunakan tersangka untuk melakukan pembunuhan berantai. Berikut
akan dijelaskan beberapa defines serta tipe- tipe dari pembunuh berantai dari
sudut pandang psikologi.
B. Kajian Teoritis
Pembunuh Berantai
Menurut definisi sudut pandang kriminal, pembunuh
berantai adalah seseorang yg membunuh satu orang atau lebih dengan rentang
waktu tidak membunuh selama 30 hari atau lebih di antaranya. Motivasi pembunuh
berantai umumnya murni dari dalam dirinya sendiri, bukan paksaan atau bujukan
dari orang lain. Para pembunuh berantai sendiri umumnya adalah orang yg
tersingkirkan atau sengaja menarik diri dari lingkungannya. Karena itu,
pembunuh berantai sering diidentikkan dengan perilaku antisosial. Akibat
menarik diri dari lingkungan, mereka tumbuh menjadi pribadi yg egosentris &
tidak punya rasa empati pada orang lain. Pada pembunuh berantai yg menjurus
psikopat, ia berpikir bahwa nyawa hewan tak ada bedanya dengan nyawa manusia,
sehingga sering menunjukkan sifat tidak menyesal usai membunuh .
Para pembunuh berantai secara khusus didorong oleh
berbagai alasan psikologis, terutama tekanan (complusion) kekuasaan dan seksual. Mereka umumnya memiliki
kekuarangan dan ketidakberhagaan, kadang-kadang mengalami penghinaan, bullying, dan pelecehan (abuse) pada masa kecilnya serta tekanan
kemiskinan dan status ekonomi yang rendah di saat dewasa. Dalam banyak kasus,
para pembunuh berantai melakukan kejahatan untuk mengkompensasi faktor-faktor
tersebut dan meberikan rasa memiliki potensi dan sering melakukan balas dendam
dengan memberikan mereka sebuah perasaan berkuasa, baik pada waktu melakukan
pembunuhan maupun sesudahnya.
Sebagian pembunuh berantai menunjukkan satu atau
lebih dari apa yang dikenal sebagai “tiga serangkai MacDonald (MacDonald triad)” tanda peringatan pada
masa kecil, yakni:
Mulai membakar, atau selalu membakar rumah, untuk merasakan kegairahan saat
menghancurkan sesuatu, untuk menarik perhatian, atau untuk membuat si pelaku
merasa lebih kuat.
Kejam terhadap binatang (berkaitan dengan zoosadisme). Banyak anak-anak mungkin kejam terhadap binatang,
misalnya menarik lepas kaki laba-laba. Tapi orang yang kelak menjadi pembunuh
berantai sering membunuh binatang yang lebih besar, misalnya anjing dan kucing,
dan sering kali demi kenikmatan sendiri, bukan untuk mengesankan teman-teman
sebayanya. Dan yang terakhir adalah mimpi
basah di usia yang sudah lewat dibanding anak-anak normal.
Dua Tipe Pembunuh Berantai
Sejumlah besar pembunuh berantai akan menunjukkan
aspek-aspek tertentubaik tipe terorganisasi maupun tidak terorganisasi,
meskipun biasanya karakteristik salah satu lebih dominan. Sebagai pembunuh
turun dari perilaku terorganisasi menjadi tidak terorganisasi ketika mereka
terus melakukan pembunuhan. Pada awalnya mereka terus melakukan pembunuhan
dengan hati-hati dan metodis, tapi menjadi ceroboh dan implusif ketika tekanan
terhadap hidup mereka makin besar.
Namun FBI umumnya mengelompokkan pembunuhan
berantai ke dalam dua tipe yang berbeda:
1. Pelaku terorganisasi/nonsosisal, biasanya sangat cerdas, memiliki IQ di
atas rata-rata (>100), dan merencanakan kejahatan mereka dengan sangat
metodis, biasanya menculik korban-korbannya, membunuh mereka di satu tempat dan
membuang mayatnya di tempat lain.
2. Pelaku tak terorganisasi/asosial, biasanya memiliki kecerdasan yang
rendah, IQ di bawah rata-rata (<90), dan melakukan kejahatan mereka dengan
menuruti kata hati (implusif).
Lima Motif Pembunuhan berantai
Motif-motif pembunuhan berantai bisa dibagi ke
dalam lima kategori yang berbeda, meskipun sejumlah pembunuh berantai
memperlihatkan karakteristik lebih dari satu tipe. Berikut adalah motif
pembunuhan berantai:
·
Visioner
Herbert Mullin membunuh 13 orang setelah dia
mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa pembunuhan diperlukan untuk
mencegah Carlifornia dari serangan gempa bumi. Mullin bersusah payah untuk
“menunjukkan” bahwa California benar-benar terhindar dari gempa bumi selama dia
melakukan rangkaian pembunuhan.
Ed Gein membunuh dua perempuan (atau lebih, jumlah
tepatnya tidak diketahui) yang memiliki kemiripan dengan ibunya. Dia juga
menggunakan daging dai mayat-mayat perempuan yang digali untuk membuat sebuah
“setelan perempuan” (juga berbagai
perhiasan rumah seperti gorden dan kap lampu) untuk dirinya sehingga dia bisa
“menjadi” ibunya. Setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga mental
selama sisa hidupnya.
·
Misioner
Para pembunuh yang tergolong misioner percaya bahwa
aksi mereka dibenarkan dengan dasar bahwa mereka sedang membersihkan tipe
manusia tertentu (seringnya para pelacur atau anggota etnis tertentu), dan
demikian melakukan kebaikan bagi masyarakat.
·
Hedonistis
Pembunuh tipe ini membunuh demi kesenangan belaka, meskipun aspek apa
yang membuat mereka senang bermacam-macam. Ini tipe paling umum pembunuh
berantai yang digambar dalam film horor, thriller
psikologis, dan lain-lainnya. Pernyataan Yang Xibhai setelah ditangkap
adalah tipikal sikap pembunuh demikian: “Ketika saya membunuh seseorang, saya
memiliki keinginan untuk membunuh lagi. Keinginan itu mengilhami saya untuk
membunuh lebih banyak. Saya tak peduli apakah mereka layak hidup atau tidak.
Itu bukan urusan saya.” Sebagian pembunuh mungkin menikmati fase “memburu” atau
“memancing” dan menjerat korban lebih dari segalanya, sedangkan sebagian lain
mungkin terutama didorong oleh aksi penyiksaan dan perlakuan kejam terhadap korban ketika masih hidup.
·
Didorong Keuntungan
Sebagian besar penjahat yang melakukan pembunuhan berantai dengan tujuan
materi (misalnya para penembak mafia), tidak dimasukkan ke dalam klasifikasi
pembunuh berantai. Sebab mereka didorong oleh perolehan ekonomi, bukannya
desakan psikopantologis. Namun hanya ada garis tipis yang membedakan para
pembunuh ini. misalnya, Marcel Petiot, yang berpotensi di Prancisyang diduduki
Nazi, bisa diklasifikasikan sebagai pembunuh berantai. Dia berpura-pura menjadi
anggota French Resistance dan memikat orang-orang kaya Yahudi datang ke
rumahnya, mengklaim bahwa dia bisa menyelundupkan mereka keluar dari negara
itu. Alih-alih, dia membunuh mereka dan mencuri kekayaan mereka, membunuh 63
orang sebelum akhirnya ditangkap.
·
Kekuatan dan Kontrol
Tujuan utama mereka membunuh adalah meraih menggunakan kekuatan atas
korban mereka. Para pembunuh seperti ini kadang-kadang disiksa ketika anak-anak,
dan memiliki perasaan yang lemah dan tidak cukup ketika dewasa. Banyak pembunuh
yang didorong-kekuatan/kontrol secara seksual menyiksa korbannya, tapi berbeda
dengan pembunuh hedonistik. Ketika memperkosa mereka tidak didorong oleh nafsu,
melainkan oleh bentuk lain dominasi terhadap korban.
c. Kesimpulan
Dalam perspektif
psikologis, beberapa kasus pembunuhan berantai menjurus pada gangguan mental,
misalnya skizofrenia. Ketika seseorang yang melakukan pembunuhan berantai dan
didiagnosis mengidap suatu gangguan kejiwaan maka ia akan lepas dari berbagai
tuntutan hukum. Ia tidak akan menjadi penghuni penjara, melainkan rumah sakit
jiwa untuk mendapat perawatan mental.
Pada cotoh kasus Ed Gein, setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga
mental selama sisa hidupnya.
Dalam persidangan kasus-
kasus pembunuhan berantai saksi ahli, seperti psikiatri, psikolog forensic,
didatangkan ke meja hijau untuk memberikan keterangan apakah seseorang tersebut
mengidap gangguan jiwa atau tidak. Ini bukan merupakan hal yang mudah,
serangkaian tes psikologis harus dilakukan untuk membuktikan apakah tersangka
memenuhi diagnosis gangguan kejiwaan ataukah “berpura pura gila” untuk
menghidari tuntutan hukum. Bagi keluarga korban, tidak adil apabila seseorang
yang telah melakukan pembunuhan berantai yang kejam tidak mendapatkan hukuman
penjara atau hukuman mati justru mendapatkan perawatan khusus di bangsal rumah
sakit jiwa. Oleh sebab itu, pemahaman akan berbagai perspektif dibutuhkan baik
untuk masyartakat, maupun keluarga korban.
Sumber:
Aksan,
Hermawan. 2008. Kasus-Kasus Pembunuhan
Berantai di Indonesia dan di Dunia. Jakarta: PT Grafindo media Pratama
Fulero, Solomon., Wrigthsman, Lawrence. 2009. Forensic Psychology. Belmont: Wadsworth
No comments:
Post a Comment