Pages

Monday, 29 October 2012

Mitologi PSYCHE


“Dunia” kita dinamakan psikologi sebagai penghormatan pada tokoh mitologi Yunani, Psyche, yang berarti jiwa dalam bahasa Yunani dan Latin. Psyche adalah putri bungsu seorang maharaja. Kecantikan lahir batinnya membuat banyak manusia dari segenap penjuru dunia rela menempuh perjalanan panjang sekedar untuk mencuri pandang dan mengaguminya. Venus selaku dewi kecantikan pun iri padanya karena pemujian manusia terhadap Psyche melalaikan mereka dari pemujaan terhadap Venus. Venus kemudian meminta anaknya, Cupid sang dewa cinta, untuk membuat Psyche terjatuh cintanya pada mahluk paling menjijikkan di dunia.

Cupid pun merekayasa orang tua Psyche untuk meninggalkan Psyche di sebuah puncak bukit dimana ia akan ditunangkan dengan seekor ular  buruk rupa lagi keji tak tak terperi. Psyche meratapi nasibnya namun pasrah pada takdir karena meskipun ia cantik namun saat itu tak satupun manusia yang jatuh cinta padanya dan tampaknya hanya ular itulah yang bersedia berbagi hidup dengannya. Karena kesibukannya Venus pun mulai melupakan Psyche. Sementara itu Cupid  yang terpana melihat kecantikan Psyche tanpa sengaja tergores  anak panahnya sendiri. Anak panah Cupid mengandung cairan racun  yang amat licin sehingga mampu menggelincirkan cinta seseorang. Cupid jatuh cinta pada Psyche. Tinimbang membawa Psyche pada monster, Cupid membawanya ke istana Cupid dan memperistri Psyche. Karena Psyche bukanlah dewi maka Cupid tidak memberi Psyche kesempatan untuk mengetahui jati diri Cupid atau bahkan sekedar melihat rupanya. Cupid hanya mendatangi Psyche ketika malam melarut dan meminta Psyche bersumpah untuk tak kan memandang wajahnya. Bersama Cupid, Psyche hidup dalam kebahagiaan berselimut misteri.

Saudari-saudari Psyche iri melihat kemegahan istananya dan berkonspirasi untuk menghancurkan kebahagiaannya. Mereka menghasut Psyche dengan menyatakan bila suaminya sangat merahasiakan identitas dan penampilannya maka pasti ada sesuatu yang salah dengan suaminya. Akhirnya Psyche tak mampu lagi menanggung ketidakpastian jati diri dan rupa suaminya. Suatu malam ketika Cupid tidur maka Psyche mengendap-endap membawa lampu teplok untuk melihat rupa Cupid. Betapa terkejutnya Psyche ketika bukan monsterlah yang ditemuinya melainkan seorang tampan yang setampan-tampannya hingga kata tampanpun tak mampu lagi mewakili ketampanannya. Tangan Psyche terkulai gemeletar.  Kegemetaran itu membuat semprong dan minyak lampu teplok tumpah dan membakar dada bidang Cupid. Ketika Cupid bangun dan mendapati istrinya melanggar sumpah  ia pun bergegas pergi.

Dalam derita batin karena melanggar sumpah, melukai Cupid, dan kehilangan Cupid, Psyche bersumpah akan membuktikan pada Cupid how much she loves him dengan menghabiskan sisa hidupnya mencari Cupid. Dia memohon pertolongan pada semua dewa namun tak satupun membantu karena takut dimurkai Venus. Akhirnya dalam keputusasaannya ia memohon pertolongan Venus.

Dasar anak mami, Cupid mengadu pada ibunya dan memintanya untuk menghapus lukanya. Ketika Venus mendengar Cupid menikahi Psyche dan Psyche menghianati sumpahnya maka Venus berniat menghukum berat Psyche. Saat Psyche memohon ampunan pada Venus maka Venus mencercanya dan menyatakan bahwa keampunan hanya dapat didapatkan setelah Psyche menunaikan beberapa tugas. Tugas-tugas tersebut mustahil untuk ditunaikan namun Psyche berharap dalam usahanya memenuhi tugas ia akan berjumpa kembali dengan cintanya yang hilang. Dalam ujian pertama Venus mencampur biji-bijian, tepung dan jewawut dalam satu ember dan memberi Psyche waktu hingga tengah malam untuk mengelompokkan masing-masing butiran halus tersebut. Psyche nyaris putus asa namun sekelompok semut yang terharu melihat sungai air mata di lembut pipinya membantunya mengklasifikasikannya. Melihat hal itu  tambah murkalah kemarahan Venus.

Venus kemudian memberikan tugas yang lebih mustahil seperti mengambil bulu berwarna emas dari domba putih yang galak dan mengambil air hitam dari jernihnya Sungai Styx yang memisahkan alam dunia dan akhirat. Sekali lagi atas bantuan pihak ketiga Psyche mampu menunaikannya. Akhirnya Cupid yang telah sembuh dari luka fisiknya ingin membalut luka batinnya akibat kerinduan pada Psyche dengan menemui Psyche dan meyakinkannya bahwa pencariannya telah berakhir. Cupid ingin balikan dengan Psyche sehingga ia meminta Jupiter, Dewa dari segala dewa, untuk mengangkat pangkat Psyche menjadi dewi. Setelah melalui sidang General Assembly Perserikatan Dewa-Dewa (PDD) maka Sekretaris Jendral Jupiter mengangkat Psyche sebagai dewi dan meratifikasi pernikahan Cupid Vs Psyche. Venus pun ikut senang karena putranya yang manja itu mendapat pasangan yang sepadan terlebih lagi jika Psyche berdomisili di Surga  maka umat manusia di bumi tidak terganggu lagi konsentrasinya untuk memuja Venus.

Keingintahuan Psyche dan pencariannya terhadap pengetahuan (tentang jati diri dan rupa Venus) dan cinta merupakan symbol semangat keingintahuan kita terhadap manusia dan kemanusiaan. Kisah Psyche merupakan contoh dari pelbagai fenomena yang ingin kita pelajari: rasa ingin tahu, kedengkian, altruisme, ketabahan dan tentu saja, Cinta.

Di atas segalanya kisah tersebut adalah symbol bahwa apa yang ingin kita pahami mungkin tidak akan sepenuhnya tertangkap namun ada satu hal yang tidak dapat dirampas dari diri kita: the human spirit. Sesukar apapun Psyche tetap bertahan dalam pencariannya terhadap hal yang akan melengkapkan jiwanya. Love and soul…had sought and, after some trials,found each other, and that union could never be broken (Hamilton in mythology, 1942) 

Diterjemahkan secara hiperbolis dari In Search of Human Mind (Sternberg, 1998)

Dalam Bahasa Yunani, kata "psyche" selain bermakna "jiwa", juga berarti "kupu-kupu." Kupu-kupu merupakan simbol alam dari transformasi dan perkembangan yang luar biasa, sebagaimana ungkapan dalam Bahasa Inggris: "Just when the caterpillar thought the world was over, it became a butterfly." Semoga kita selaku pegiat psikologi dapat mendukung para "caterpillar" untuk bersabar menjalani metamorfosis, melalui berbagai masalah, tantangan dan pembelajaran, sebelum akhirnya menjadi "butterfly" yang indah dan dapat terbang mengangkasa.


Copied from: 
Ibnu Mundzir <imundzir@yahoo.com> <psiindonesia@yahoogroups.com>

Begitulah sekilas tentang mitologi asal kata psikologi yang diambil dari kata psyche. Anyway, nama blog ini juga diambil dari kata psyche, karena dalam bahasa Indonesia, maka ditulis psike . Sedangkan kata sophia diambil dari nama saya Sofia dan juga dari bahasa yunani σοφία / sophia yang berarti kebijaksanaan . Cheers :)

Sunday, 24 June 2012

Pembunuh Berantai dalam Perspektif Psikologi



 Oleh : Indah Novianti, M. Yudha Firas, Sofiana Millati

A.       Pendahuluan
Sebagai masyarakat modern, kita dibombardir dengan gambar dan konsep tentang pembunuh berantai. Apakah ada di film, serial televisi, dan terburuk dari semua berita menampilkan pembunuhan berantai.  Tak hanya di luar negeri saja maraknya pembunuhan berantai, di indonesia pembunuhan berantai  sedang marak-maraknya. Sungguh menabjubkan seseorang dapat membunuh banyak orang tanpa rasa bersalah.
Berbagai modus yang diungkap sehingga tersangka melakukan pembunuhan berantai. Uang, cinta hingga rasa sakit hati merupakan salah satu dari sekian banyak modus yang di gunakan tersangka untuk melakukan pembunuhan berantai. Berikut akan dijelaskan beberapa defines serta tipe- tipe dari pembunuh berantai dari sudut pandang psikologi.

B. Kajian Teoritis
Pembunuh Berantai
Menurut definisi sudut pandang kriminal, pembunuh berantai adalah seseorang yg membunuh satu orang atau lebih dengan rentang waktu tidak membunuh selama 30 hari atau lebih di antaranya. Motivasi pembunuh berantai umumnya murni dari dalam dirinya sendiri, bukan paksaan atau bujukan dari orang lain. Para pembunuh berantai sendiri umumnya adalah orang yg tersingkirkan atau sengaja menarik diri dari lingkungannya. Karena itu, pembunuh berantai sering diidentikkan dengan perilaku antisosial. Akibat menarik diri dari lingkungan, mereka tumbuh menjadi pribadi yg egosentris & tidak punya rasa empati pada orang lain. Pada pembunuh berantai yg menjurus psikopat, ia berpikir bahwa nyawa hewan tak ada bedanya dengan nyawa manusia, sehingga sering menunjukkan sifat tidak menyesal usai membunuh .
Para pembunuh berantai secara khusus didorong oleh berbagai alasan psikologis, terutama tekanan (complusion) kekuasaan dan seksual. Mereka umumnya memiliki kekuarangan dan ketidakberhagaan, kadang-kadang mengalami penghinaan, bullying, dan pelecehan (abuse) pada masa kecilnya serta tekanan kemiskinan dan status ekonomi yang rendah di saat dewasa. Dalam banyak kasus, para pembunuh berantai melakukan kejahatan untuk mengkompensasi faktor-faktor tersebut dan meberikan rasa memiliki potensi dan sering melakukan balas dendam dengan memberikan mereka sebuah perasaan berkuasa, baik pada waktu melakukan pembunuhan maupun sesudahnya.
Sebagian pembunuh berantai menunjukkan satu atau lebih dari apa yang dikenal sebagai “tiga serangkai MacDonald (MacDonald triad)” tanda peringatan pada masa kecil, yakni:
Mulai membakar, atau selalu membakar rumah, untuk merasakan kegairahan saat menghancurkan sesuatu, untuk menarik perhatian, atau untuk membuat si pelaku merasa lebih kuat.
Kejam terhadap binatang (berkaitan dengan zoosadisme). Banyak anak-anak mungkin kejam terhadap binatang, misalnya menarik lepas kaki laba-laba. Tapi orang yang kelak menjadi pembunuh berantai sering membunuh binatang yang lebih besar, misalnya anjing dan kucing, dan sering kali demi kenikmatan sendiri, bukan untuk mengesankan teman-teman sebayanya. Dan yang terakhir adalah mimpi basah di usia yang sudah lewat dibanding anak-anak normal.

Dua Tipe Pembunuh Berantai
Sejumlah besar pembunuh berantai akan menunjukkan aspek-aspek tertentubaik tipe terorganisasi maupun tidak terorganisasi, meskipun biasanya karakteristik salah satu lebih dominan. Sebagai pembunuh turun dari perilaku terorganisasi menjadi tidak terorganisasi ketika mereka terus melakukan pembunuhan. Pada awalnya mereka terus melakukan pembunuhan dengan hati-hati dan metodis, tapi menjadi ceroboh dan implusif ketika tekanan terhadap hidup mereka makin besar.
Namun FBI umumnya mengelompokkan pembunuhan berantai ke dalam dua tipe yang berbeda:
1.  Pelaku terorganisasi/nonsosisal, biasanya sangat cerdas, memiliki IQ di atas rata-rata (>100), dan merencanakan kejahatan mereka dengan sangat metodis, biasanya menculik korban-korbannya, membunuh mereka di satu tempat dan membuang mayatnya di tempat lain.
2.    Pelaku tak terorganisasi/asosial, biasanya memiliki kecerdasan yang rendah, IQ di bawah rata-rata (<90), dan melakukan kejahatan mereka dengan menuruti kata hati (implusif).

Lima Motif Pembunuhan berantai
Motif-motif pembunuhan berantai bisa dibagi ke dalam lima kategori yang berbeda, meskipun sejumlah pembunuh berantai memperlihatkan karakteristik lebih dari satu tipe. Berikut adalah motif pembunuhan berantai:
·         Visioner
Herbert Mullin membunuh 13 orang setelah dia mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa pembunuhan diperlukan untuk mencegah Carlifornia dari serangan gempa bumi. Mullin bersusah payah untuk “menunjukkan” bahwa California benar-benar terhindar dari gempa bumi selama dia melakukan rangkaian pembunuhan.
Ed Gein membunuh dua perempuan (atau lebih, jumlah tepatnya tidak diketahui) yang memiliki kemiripan dengan ibunya. Dia juga menggunakan daging dai mayat-mayat perempuan yang digali untuk membuat sebuah “setelan perempuan”  (juga berbagai perhiasan rumah seperti gorden dan kap lampu) untuk dirinya sehingga dia bisa “menjadi” ibunya. Setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga mental selama sisa hidupnya.

·         Misioner
        Para pembunuh yang tergolong misioner percaya bahwa aksi mereka dibenarkan dengan dasar bahwa mereka sedang membersihkan tipe manusia tertentu (seringnya para pelacur atau anggota etnis tertentu), dan demikian melakukan kebaikan bagi masyarakat.

·         Hedonistis
     Pembunuh tipe ini membunuh demi kesenangan belaka, meskipun aspek apa yang membuat mereka senang bermacam-macam. Ini tipe paling umum pembunuh berantai yang digambar dalam film horor, thriller psikologis, dan lain-lainnya. Pernyataan Yang Xibhai setelah ditangkap adalah tipikal sikap pembunuh demikian: “Ketika saya membunuh seseorang, saya memiliki keinginan untuk membunuh lagi. Keinginan itu mengilhami saya untuk membunuh lebih banyak. Saya tak peduli apakah mereka layak hidup atau tidak. Itu bukan urusan saya.” Sebagian pembunuh mungkin menikmati fase “memburu” atau “memancing” dan menjerat korban lebih dari segalanya, sedangkan sebagian lain mungkin terutama didorong oleh aksi penyiksaan dan perlakuan  kejam terhadap korban ketika masih hidup.

·         Didorong Keuntungan
      Sebagian besar penjahat yang melakukan pembunuhan berantai dengan tujuan materi (misalnya para penembak mafia), tidak dimasukkan ke dalam klasifikasi pembunuh berantai. Sebab mereka didorong oleh perolehan ekonomi, bukannya desakan psikopantologis. Namun hanya ada garis tipis yang membedakan para pembunuh ini. misalnya, Marcel Petiot, yang berpotensi di Prancisyang diduduki Nazi, bisa diklasifikasikan sebagai pembunuh berantai. Dia berpura-pura menjadi anggota French Resistance dan memikat orang-orang kaya Yahudi datang ke rumahnya, mengklaim bahwa dia bisa menyelundupkan mereka keluar dari negara itu. Alih-alih, dia membunuh mereka dan mencuri kekayaan mereka, membunuh 63 orang sebelum akhirnya ditangkap.

·         Kekuatan dan Kontrol
       Tujuan utama mereka membunuh adalah meraih menggunakan kekuatan atas korban mereka. Para pembunuh seperti ini kadang-kadang disiksa ketika anak-anak, dan memiliki perasaan yang lemah dan tidak cukup ketika dewasa. Banyak pembunuh yang didorong-kekuatan/kontrol secara seksual menyiksa korbannya, tapi berbeda dengan pembunuh hedonistik. Ketika memperkosa mereka tidak didorong oleh nafsu, melainkan oleh bentuk lain dominasi terhadap korban.

c. Kesimpulan
Dalam perspektif psikologis, beberapa kasus pembunuhan berantai menjurus pada gangguan mental, misalnya skizofrenia. Ketika seseorang yang melakukan pembunuhan berantai dan didiagnosis mengidap suatu gangguan kejiwaan maka ia akan lepas dari berbagai tuntutan hukum. Ia tidak akan menjadi penghuni penjara, melainkan rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan mental.
Pada cotoh kasus Ed Gein, setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah lembaga mental selama sisa hidupnya.
Dalam persidangan kasus- kasus pembunuhan berantai saksi ahli, seperti psikiatri, psikolog forensic, didatangkan ke meja hijau untuk memberikan keterangan apakah seseorang tersebut mengidap gangguan jiwa atau tidak. Ini bukan merupakan hal yang mudah, serangkaian tes psikologis harus dilakukan untuk membuktikan apakah tersangka memenuhi diagnosis gangguan kejiwaan ataukah “berpura pura gila” untuk menghidari tuntutan hukum. Bagi keluarga korban, tidak adil apabila seseorang yang telah melakukan pembunuhan berantai yang kejam tidak mendapatkan hukuman penjara atau hukuman mati justru mendapatkan perawatan khusus di bangsal rumah sakit jiwa. Oleh sebab itu, pemahaman akan berbagai perspektif dibutuhkan baik untuk masyartakat, maupun keluarga korban.

Sumber:
Aksan, Hermawan. 2008. Kasus-Kasus Pembunuhan Berantai di Indonesia dan di Dunia. Jakarta: PT Grafindo media Pratama
Fulero, Solomon., Wrigthsman, Lawrence. 2009. Forensic Psychology. Belmont: Wadsworth
Petrel. 2008. “Artikel seputar pembunuh berantai”. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=14814.50. 19 Juni 2012

Friday, 16 March 2012

Sense of Control

Tindakan orang tua pada masa kanak- kanak awalnya tampak berhubungan dengan diperolehnya sense of control atau perasaan mampu mengontrol. Secara umum, tampaknya orang tua berinteraksi dengan anaknya secara sangat positif dan dapat diprediksi memiliki fungsi penting. Ini dilakukan dengan merespons kebutuhan mereka, terutama ketika anaknya mengomunikasikan kebutuhan- kebutuhannya, terutama kebutuhan akan perhatian, makanan, mengatasi rasa takut dst.

Para Orang tua ini mengajarkan kepada anak- anaknya bahwa mereka memiliki kontrol terhadap lingkungannya dan respons mereka memiliki efek pada orangtua dan lingkungan mereka. Selain itu, para orangtua yang membiarkan anaknya mengeksplorasi dunianya dan mengembangkan keterampilan- keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai kejadian yang tidak diharapkan membuat anak- anaknya mampu mengembangkan sense of control yang sehat.

Agaknya, yang penting adalah bagaimana memberikan "rumah yang aman" bagi anak- anak Anda, dimana Anda selalu ada ketika anak- anak membutuhkan Anda selama mengeksplorasi dunianya (Chorpita & Barlow, 1958)

Sebaliknya, orang tua yang selalu melindungi, terlalu intrusif dan selalu "memuluskan jalan" yang harus dilalui anak- anaknya, dan tidak pernah memberikan kesempatan pada mereka untuk mengalami keanekaragaman, berarti juga menciptakan situasi dimana anak- anaknya tidak pernah belajar tentang cara mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Dengan demikian, anak- anak itu juga tidak tahu bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengontrol lingkungannya.

Perasaan mampu mengontrol yang berkembang dari pengalaman- pengalaman awal ini merupakan faktor psikologis yang membuat kita sangat rentan terhadap kecemasan di kehidupan kita selanjutnya.

Source: 
Intisari Psikologi Abnormal, Edisi Keempat, Buku Satu
V. Mark Durand & David H. Barlow
Yogyakarta: Pustaka Belajar
2006

Pola Asuh Patogenik

Salah satu penyebab gangguan jiwa adalah Pola Asuh Patogenik, dimana pola asuh patogenik memiliki beberapa ciri, antara lain:
1.Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
2. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”
3. Penolakan (rejected child)
4. Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
5. Disiplin yang terlalu keras
6. Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan
7. Perselisihan antara ayah-ibu
8. Perceraian
9. Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya
10. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
11. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
12. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)

Dengan menghindari berbagai kriteria pola asuh patogenik, diharapkan individu atau seorang anak dapat tumbuh dengan mental yang sehat dan terhindar dari berbagai kecenderungan gangguan jiwa. Orang tua seharusnya lebih mawas diri dan belajar mengasuh anak dengan pola yang tepat, yang tidak menimbulkan dipedensi berlebih ataupun terlalu mengabaikan anak. Cintailah anak Anda dengan cinta yang cukup, dan didiklah anak anda untuk dapat mandiri dan menjadi pribadi yang berani menghadapi segala permasalahan hidup dengan kekuatannya sendiri (^_^)

Sunday, 4 March 2012

Case Study: Panic Attack!


Jane reported that she had daily panic attacks with physiological reactions that included chest pain, shortness of breath, dizziness, nose burn, sudden perspiration, and numbing in the hands. The panic attacks occurred at work, at home, and in public places. She reported that the panic attacks were becoming problematic at her workplace, and her employer had commented on her condition. Jane stated that she had experienced panic attacks for more than 10 years. She sought out help from seven previous therapists. She terminated these professional relationships prematurely, because “they weren’t helping me.” The predominant treatment approaches employed by the previous therapists involved a psychodynamic paradigm and treatment by PCP, whose treatment of choice was anxiolytic medications.

The salient criteria for a diagnosis of panic disorder, without agoraphobia according to the Diagnostic and Statistical Manual, Fourth Edition (DSM-IV) (American Psychiatric Association, 1994) are a history of recurrent unexpected panic attacks (Criterion A.1), with at least one of the panic attacks has been followed by 1 month of:
(a) persistent concern,
(b) worry about the consequences or implications of the panic attack, or 
(c) a significant change in behavior because of the panic attack. 

The presentation must not include agoraphobia (Criterion B), and the panic attacks are not due to substance use ora general medical condition (Criterion C), or another psychiatric disorder (Criterion D).
Jane’s condition met these criteria.

Source: 
Cognitive-Behavioral Treatment of Panic Attacks
 by TERRY MICHAELMCCLANAHAN & DAVID O. ANTONUCCIO
Veterans Affairs, Sierra Nevada Healthcare System

CLINICAL CASE STUDIES, Vol. 1 No. 3, July 2002 211-223
© 2002 Sage Publications

Sunday, 26 February 2012

Perpektif Psikologi Kasus Ryan Jombang

Berawal dari terungkapnya sebuah kasus mutilasi di Jakarta pada pertengahan Juli 2008, polisi menemukan hubungan dengan hilangnya 10 orang lain di Jombang. Very Idam Henyansyah alias Ryan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas kasus mutilasi yang menimpa Ir. Heri Santoso tersebut.
Dalam pemberitaan berbagai media, kasus Ryan asal Jombang banyak disebut sebagai psikopat. Psikopat merupakan suatu gangguan abnormalitas dimana gangguan abnormalitas memiliki 3 kriteria antara lain:


lDisfungsi Psikologis : menjalankan peran/fungsi dalam kehidupan ; integrasi aspek kognitif,afektif,konatif/psikomotorik
lDistres ; Impairment (Hendaya) è menunjukkan pada keadaan “merusak” dirinya baik secara fisik or psikologis
lRespon Atipikal (Secara Kultural Tidak Diharapkan): Reaksi yang TIDAK sesuai dengan keadaan sosio kultural yang berlaku.




Berdasarkan pengertian secara dikotomis terhadap kondisi kejiwaan individu, maka diperoleh pemahaman atau kesimpulan berkaitan dengan pengertian penyimpangan perilaku seksual sebagaimana dikemukakan oleh Anna  Freud adalah sebagai berikut, penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini  bersifat  psiko logis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
Ryan memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis. dalam perpektif budaya Indonesia, homoseksual adalah sesuatu perilaku yang tidak dapat diterima secara kultural, khususnya kultur jawa dimana Ryan tinggal.

Tindakan membunuh adan memutilasi korbannya juga dapat ditilik dari sudut pandang psikologi kriminal atau psikologi forensic. Mutilasi memiliki beberapa  dimensi, seperti dimensi perencanaan (direncanakan-tidak direncanakan),  dimensi pelaku (individu-kolektif), dan dimensi ritual atau inisiasi, serta dimensi, kesehatan atau medis. Dengan demikian, perbuatan memutilasi tidak dapat  dipukul rata sebagai tindakan kriminal yang dapat dikenakan sanksi pidana.




Nilai Terapeutik Pengelolaan Kontratransferesi


Ide untuk menghindari atau menetralisis kontratransferensi sebetulnya tidak realistik, karena kontratranferensi itu sendiri membentuk keterlibatan terapis dengan suatu matrix termasuk prasangka- prasangka yang dibutuhkan melalui pengalaman seumur hidupnya.
Konsep kontratransferensi telah melalui suatu transformasi. Kontratransferensi sebagai suatu hambatan destruktif secara berangsur- angsur digantikan dengan melihat kontratranferensi sebagai suatu sumber yang berharga untuk memahami pasien. Terlebih transformasi ini adalah akibat dari meningkatnya minat dan perhatian terhadap konsep relasi terapis- pasien—yang berfungsi sebagai suatu forum untuk memerankan kembali pengalaman masa lalu. Pemaparan  terhadap masa lalu telah digantikan dengan perhatian pada apa yang sedang terjadi di masa kini antara terapis dan pasien.
Manajaemen kontratranferensi memiliki suatu efek terapeutik. Kontratransferensi menciptakan suatu lingkungan menahan diri dari pasien, sehingga ia dapat menginternalisasikan suatu bentuk dari ikatan interpersonal. Penampungan yang optimal juga member pasien kesempatan untuk mengenali aspek diri mereka sendiri dalam terapis. Sehingga ketika interpretasi dilaksanakan, pasien mampu menerima dan mendapat keuntungan dengan sedikit sikap defensive. Dengan memiliki bingkai terapeutik memfasilitasi suatu kekecewaan yang penting dalam terapi dengan suatu proses berkabung tentunya hal ini akan diikuti dengan proses penyesuaian diri untuk menjadi pribadi yang lebih matur.

Nilai terapeutik pengelolaan kontratransferesi
Seperti telah disebutkan di atas, keberhasilan menangani kontratransferensi melibatkan pengahayatan proyeksi pasien scara penuh tanpa menjadi terpengaruh seutuhnya sehingga dapat mengakibatkan terapis bertindak secara destruktif. Menurut Carpy, bila terapis memerankan sebagain dari muatan yang diproyeksi pasien, diperbolehkan untuk diamati secara sadar maupun nirsadar oleh pasien, sedangkan yang tidak mampu ditoleransi pasien hendaknya tidak diproyeksikan. Dengan menoleransi kotratransferensi, terapis mendukung perubahan intrapsikis. Pasien melihat terapis, mereka menanggung keadaan efektif yang mereka sendiri tidak mampu menanggungnya. Pengamatan ini membuat perasaan mereka lebih mudah ditoleransi dan memudahkan jalan menuju introyeksi kembali (re-interjection) dari muatan- muatan yang diproyeksikan bersamaan dengan kapasitas terapis untuk menoleransi sesuatu yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi.
Suatu komponen penting dari sikap menahan diri terapis adalah menunda interpretasi. Identifikasi proyektif dirancang untuk menyangkal rasa memiliki aspek dari self yang tidak dapat diterima. Bila terapis bermaksud memaksakan muatan yang diproyeksikan kembali pada pasien secara premature, maka pasien tidak akan mampu mengetahui rasa memilikinya. Di pihak lain, terapis yang dapat menampung materi yang diproyeksikan pasien dan mentoleransi kontratransferensi memberikan kesempatan bagi pasien untuk mulai mengenali bagian dari dirinya yang ada pada terapis. Interpretasi yang terlalu dini (premature) dari persepsi pasien sebagai suatu proyeksi hanya akan memicu penyangkalan dan melumpuhkan usaha pasien untuk memproses proyeksi tersebut.
Kekuatan terapis adalah hal terpenting dalam proes penemuan diri pasien. Terapis diharapkan dapat bertahan, walaupun mengalami transferensi destruktif yang kuat dari pasien. Saat pasien melihat bahwa abang batas ego terapis tidak mudah mengalami erosi, ambang batas ego mereka sendiri menjadi diperkuat. Demikian pula bila mereka melihat bahwa dirinya mulai mampu mentoleransi frustasi dan menampung perasaan tidak nyaman mereka sendiri tanpa harus memproyesikannya.
Ketika terapis mampu mengendalikan kontratransferensi- kontratransferensi mereka saat memenuhi tuntutan- tuntutan pasien, tentunya terapis juga akan mengalami pertumbuhan dan memperkuat ego mereka sendiri melalui proses yang sulit. Batasan- batasan yang tegas dan rasional akhirnya akan menurunkan tuntutan infantile pasien. Saat terapis menolak untuk diidealisasi—dibuat menjadi orangtua yang sempurna bagi pasien—maka pasien akhirnya akan belajar bahwa mereka harus mulai belajar menjadi ibu bagi diri mereka sendiri. Harapan untuk menyatu dan diberi makan dikembalikan ke diri mereka sendiri.
Ketika mempertimbangkan kesulitan bahwa akhirnya terapis akan menghadapi terminasi dari proses psikoterapi, perlu selalu diingat bahwa kesalahan manajemen kontratransferensi yang terjadi di sekitar fase terminasi dapat mengakibatkan disrupsi terlalu diri dari ikatan terapis- pasien. Hal ini dapat mengacaukan pertumbuhan psikologis dari terapi atau memperpanjang infantilisasi, yang akan barakibat kegagalan untuk menganali kebutuhan dakan kemandirian pasien semakin meningkat.

Sumber: Kumpulan Makalah Psikoterapi, Sylvia D. Elvira, FK UI, 2005

Sunday, 19 February 2012

Definisi Abnormal

Salah satu tantangan tersulit yang dihadapi mereka yang terjun di bidang psikologi abnormal adalah mendefinisikan prilaku abnormal. Disini kami mempertimbangkan beberapa karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abnormal. Kita akan melihat bahwa satu karakter tunggal tidaklah cukup, namun masing masing berperan dan mencakup beberapa bagian dari kemungkinan definisi lengkapnya. Konsekuensinya, abnormalitas umumnya ditentukan berdasarkan munculnya beberapa karakteistik sekaligus. Definisi terbaik yang kami berikan menggunakan beberapa karaktersitik, antara lain : kejarangan statistic, pelanggaran norma, distress pribadi, ketidakmampuan atau disfungsi, dan respon yang tidak diharapkan (unexpectedness)

Kejarangan Statistik
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah perilaku tersebut jarang ditemukan. Kurva normal, atau kurva berbentuk lonceng, menempatkan mayoritas manusia di bagian tengah dalam kaitan dengankaraktersitik tertentu; sangat sedikit yang berada di bagian kedua ekstreem. Perkataan yang mengungkapkan bahwwa sesorang normal merujuk bahwa orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata- rata pola trait atau perilaku tertentu.
Kejarangan satistik digunakan secara eksplisit dalam mendiagnosis retardasi mental. Walaupun sejumlah criteria digunakan untuk mendiagnosis retardasi mental, inteleggensi rendah merupakan criteria utama. Bila IQ seseorang dibawah 70, funsi intelektualnya dinilai cukup dibawah normal untuk disebut sebagai retardasi mental.
Walaupun beberapa perilaku atau karakteristik yang jarang terjadi terdapat pada orang- orang tertentu kita anggap sebagai abnormal, dalam beberapa kasus tidak terdapat hubungan sama sekali. Memiliki kemampuan atletik yang hebat merupakann seesuatu yang jarang terjadi, namun beberapa orang menilainya sebagai bagian dari psikologi abnormal. Hanya beberapa prilaku tertentu yang jarang terjadi, seperti mengalami halusinasi atau depresi yang mendalam, masuk dalam lingkup yang dibahas buku ini. Sayangnya, komponen statistic memberikan sedikit panduan  bagi kita dalam menentukan perilaku mana yang jarang terjadi yang harus dipelajari para psikopatolog.

Pelanggaran norma
Karakteristik lain yang dipertimbangkan dalam menentukan abnormalitas adalah apakah perilaku tersebut melanggar norma sosial atau mengancam atau mencemaskan mereka yang mengamatinya. Perilaku antisocial dan psikopat juga sesuai dengan definisi ini, sebagaimana dengan ritual kompleks yang dilakukan para penderita obsesif kompulsif dan percakapan pasien psikotik dengan suara khayalan. Namun, tetap saja komponen ini terlalu luas sekaligus terlalu sempit. Perilaku kejahatan dan pria/wanita tuna susila melanggar norma sosial, namun umumnya tidak selalu dipelajari dalam psikologi abnormal; dan orang sangat pencemas yang umumnya dinilai sebagai karakter utama psikologi abnormal, umumnya tidak melanggar norma sosial dan tidak mengganggu banyak orang yang mengamatinya.
Selain itu, keragaman budaya dapat memengaruhi bagaimana orang orang memandang norma sosial dalam suatu budaya mungkin dianggap abnormal dalam budaya lain.

Distress Pribadi
Karaktersitik dari beberapa bentuk abnormalitas adalah tekanan pribadi yaitu, perilaku dianggap abnormal jika menciptakan siksaan dan tekanan besar pada orang yang mengalaminya. Distress pribadi jelas sesuai dengan banyak bentuk abnormalitas—orang – orang yang mengalami gangguan anxietas dan depresi benar- benar menderita. Namun, beberapa gangguan tidak selalu menyebabkan distress. Psikopat, sebagai contoh, memperlakukan orang lain tanpa perasaan dan mungkin terus- menerus melanggar hokum tanpa sedikitpun merasa bersalah, menyesal, ataupun cemas. Dan tidak semua bentuk distress—sebagai contoh, kelaparan atau rasa sakit ketika melahirkan—menjadi bagian dari bidang ini.

Disabilitas dan Disfungsi Perilaku
Disabilitas, yaitu ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting (misalnya hubungan kerja atau pribadi) karena abnormalitas, juga menjadi komponen perilaku abnormal. Gangguan yang berkaitan dengan penggunaan zat sebagian ditentikan oleh disabilita sosial atau perkerjaan (misalnya kinerja ynag rendah di tempat kerja, pertengkaran yang serius dengan pasangan) yang disebabkan penyalahgunaan zat. Secara sama, fobia dapat menyebabkan distress atau disabilitas, sebagai contoh, ketakutan naik pesawat yang parah menghambat seseorang memperoleh promosi jabatan. Seperti halnya penderitaan, disabilitas terjadi dalam beberapa, namun tidak semua, gangguan. Sebagai contoh, transvestisme (memakai baju lawan jenis untuk mendapatnkan kenikmatan seksual), yang saat ini didiagnosis sebagai gangguan mental jika menyebabkan distress bagi yang mengalaminya, bukanlah suatu disabilitas. Sebagian besar penderita transvestisme menikah, menjalani hidup yang wajar, dan biasanya memakai baju lawan jenis secara sembunyi sembunyi. Karaktersitik lain yang dalam beberapa situasi dianggap sebagai ketidakmampuan—misalnya betubuh pendek, padahal Anda ingin menjadi pembasket professional—tidak termasuk dalam bidang psikologi abnormal. Sebagaimana disabilitas, kami tidak memiliki aturan yang menentukan disabilitas seperti apa yang dianggap normal atau abnormal.

Yang Tidak Diinginkan (Unexpectedness)
Kami telah menjelaskan bahwa tidak semua distress atau disabilitas masuk dalam bidang psikologi abnormal. Distress dan disabilitas seringkali dianggap abnormal bila hal tersebut merupakan respons tidak diharapkan terhadap stressor lingkungan (Wakafield, 1992). Sebagai contoh gangguan anxietas didiagnosis bila kecemasan tidak diharapkan dan di luar proporsi damam suatu situasi, sebagaimana bila seseorang selalu cemas akan situasi keuangannya. Kelaparan, disisi lain, merupakan respons yang tidak diharapkan bila kita tidak makan sehingga tidak termasuk dalam kondisi distress yang relevan denga perilaku abnormal.
Kami telah mempertimbangkan beberapa karaktersitik kunci dari definisi perilaku abnormal. Sekali lagi, tidak ada satu karakter tunggal yang menghasilkan definisi yang memuaskan, namun secara bersama sama memberikan kerangka kerja yang bermanfaat untuk memulai definisi abnormalitas.
Sumber: Psikologi Abnormal, Gerald C. Davison – John M. Neale – Ann M. Kring, 2010