Pages

Sunday, 26 February 2012

Nilai Terapeutik Pengelolaan Kontratransferesi


Ide untuk menghindari atau menetralisis kontratransferensi sebetulnya tidak realistik, karena kontratranferensi itu sendiri membentuk keterlibatan terapis dengan suatu matrix termasuk prasangka- prasangka yang dibutuhkan melalui pengalaman seumur hidupnya.
Konsep kontratransferensi telah melalui suatu transformasi. Kontratransferensi sebagai suatu hambatan destruktif secara berangsur- angsur digantikan dengan melihat kontratranferensi sebagai suatu sumber yang berharga untuk memahami pasien. Terlebih transformasi ini adalah akibat dari meningkatnya minat dan perhatian terhadap konsep relasi terapis- pasien—yang berfungsi sebagai suatu forum untuk memerankan kembali pengalaman masa lalu. Pemaparan  terhadap masa lalu telah digantikan dengan perhatian pada apa yang sedang terjadi di masa kini antara terapis dan pasien.
Manajaemen kontratranferensi memiliki suatu efek terapeutik. Kontratransferensi menciptakan suatu lingkungan menahan diri dari pasien, sehingga ia dapat menginternalisasikan suatu bentuk dari ikatan interpersonal. Penampungan yang optimal juga member pasien kesempatan untuk mengenali aspek diri mereka sendiri dalam terapis. Sehingga ketika interpretasi dilaksanakan, pasien mampu menerima dan mendapat keuntungan dengan sedikit sikap defensive. Dengan memiliki bingkai terapeutik memfasilitasi suatu kekecewaan yang penting dalam terapi dengan suatu proses berkabung tentunya hal ini akan diikuti dengan proses penyesuaian diri untuk menjadi pribadi yang lebih matur.

Nilai terapeutik pengelolaan kontratransferesi
Seperti telah disebutkan di atas, keberhasilan menangani kontratransferensi melibatkan pengahayatan proyeksi pasien scara penuh tanpa menjadi terpengaruh seutuhnya sehingga dapat mengakibatkan terapis bertindak secara destruktif. Menurut Carpy, bila terapis memerankan sebagain dari muatan yang diproyeksi pasien, diperbolehkan untuk diamati secara sadar maupun nirsadar oleh pasien, sedangkan yang tidak mampu ditoleransi pasien hendaknya tidak diproyeksikan. Dengan menoleransi kotratransferensi, terapis mendukung perubahan intrapsikis. Pasien melihat terapis, mereka menanggung keadaan efektif yang mereka sendiri tidak mampu menanggungnya. Pengamatan ini membuat perasaan mereka lebih mudah ditoleransi dan memudahkan jalan menuju introyeksi kembali (re-interjection) dari muatan- muatan yang diproyeksikan bersamaan dengan kapasitas terapis untuk menoleransi sesuatu yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi.
Suatu komponen penting dari sikap menahan diri terapis adalah menunda interpretasi. Identifikasi proyektif dirancang untuk menyangkal rasa memiliki aspek dari self yang tidak dapat diterima. Bila terapis bermaksud memaksakan muatan yang diproyeksikan kembali pada pasien secara premature, maka pasien tidak akan mampu mengetahui rasa memilikinya. Di pihak lain, terapis yang dapat menampung materi yang diproyeksikan pasien dan mentoleransi kontratransferensi memberikan kesempatan bagi pasien untuk mulai mengenali bagian dari dirinya yang ada pada terapis. Interpretasi yang terlalu dini (premature) dari persepsi pasien sebagai suatu proyeksi hanya akan memicu penyangkalan dan melumpuhkan usaha pasien untuk memproses proyeksi tersebut.
Kekuatan terapis adalah hal terpenting dalam proes penemuan diri pasien. Terapis diharapkan dapat bertahan, walaupun mengalami transferensi destruktif yang kuat dari pasien. Saat pasien melihat bahwa abang batas ego terapis tidak mudah mengalami erosi, ambang batas ego mereka sendiri menjadi diperkuat. Demikian pula bila mereka melihat bahwa dirinya mulai mampu mentoleransi frustasi dan menampung perasaan tidak nyaman mereka sendiri tanpa harus memproyesikannya.
Ketika terapis mampu mengendalikan kontratransferensi- kontratransferensi mereka saat memenuhi tuntutan- tuntutan pasien, tentunya terapis juga akan mengalami pertumbuhan dan memperkuat ego mereka sendiri melalui proses yang sulit. Batasan- batasan yang tegas dan rasional akhirnya akan menurunkan tuntutan infantile pasien. Saat terapis menolak untuk diidealisasi—dibuat menjadi orangtua yang sempurna bagi pasien—maka pasien akhirnya akan belajar bahwa mereka harus mulai belajar menjadi ibu bagi diri mereka sendiri. Harapan untuk menyatu dan diberi makan dikembalikan ke diri mereka sendiri.
Ketika mempertimbangkan kesulitan bahwa akhirnya terapis akan menghadapi terminasi dari proses psikoterapi, perlu selalu diingat bahwa kesalahan manajemen kontratransferensi yang terjadi di sekitar fase terminasi dapat mengakibatkan disrupsi terlalu diri dari ikatan terapis- pasien. Hal ini dapat mengacaukan pertumbuhan psikologis dari terapi atau memperpanjang infantilisasi, yang akan barakibat kegagalan untuk menganali kebutuhan dakan kemandirian pasien semakin meningkat.

Sumber: Kumpulan Makalah Psikoterapi, Sylvia D. Elvira, FK UI, 2005

No comments:

Post a Comment