Ide
untuk menghindari atau menetralisis kontratransferensi sebetulnya tidak
realistik, karena kontratranferensi itu sendiri membentuk keterlibatan terapis
dengan suatu matrix termasuk prasangka- prasangka yang dibutuhkan melalui
pengalaman seumur hidupnya.
Konsep
kontratransferensi telah melalui suatu transformasi. Kontratransferensi sebagai
suatu hambatan destruktif secara berangsur- angsur digantikan dengan melihat
kontratranferensi sebagai suatu sumber yang berharga untuk memahami pasien.
Terlebih transformasi ini adalah akibat dari meningkatnya minat dan perhatian
terhadap konsep relasi terapis- pasien—yang berfungsi sebagai suatu forum untuk
memerankan kembali pengalaman masa lalu. Pemaparan terhadap masa lalu telah digantikan dengan
perhatian pada apa yang sedang terjadi di masa kini antara terapis dan pasien.
Manajaemen
kontratranferensi memiliki suatu efek terapeutik. Kontratransferensi
menciptakan suatu lingkungan menahan diri dari pasien, sehingga ia dapat
menginternalisasikan suatu bentuk dari ikatan interpersonal. Penampungan yang
optimal juga member pasien kesempatan untuk mengenali aspek diri mereka sendiri
dalam terapis. Sehingga ketika interpretasi dilaksanakan, pasien mampu menerima
dan mendapat keuntungan dengan sedikit sikap defensive. Dengan memiliki bingkai
terapeutik memfasilitasi suatu kekecewaan yang penting dalam terapi dengan
suatu proses berkabung tentunya hal ini akan diikuti dengan proses penyesuaian
diri untuk menjadi pribadi yang lebih matur.
Nilai terapeutik pengelolaan kontratransferesi
Seperti
telah disebutkan di atas, keberhasilan menangani kontratransferensi melibatkan
pengahayatan proyeksi pasien scara penuh tanpa menjadi terpengaruh seutuhnya
sehingga dapat mengakibatkan terapis bertindak secara destruktif. Menurut
Carpy, bila terapis memerankan sebagain dari muatan yang diproyeksi pasien,
diperbolehkan untuk diamati secara sadar maupun nirsadar oleh pasien, sedangkan
yang tidak mampu ditoleransi pasien hendaknya tidak diproyeksikan. Dengan
menoleransi kotratransferensi, terapis mendukung perubahan intrapsikis. Pasien
melihat terapis, mereka menanggung keadaan efektif yang mereka sendiri tidak
mampu menanggungnya. Pengamatan ini membuat perasaan mereka lebih mudah
ditoleransi dan memudahkan jalan menuju introyeksi kembali (re-interjection)
dari muatan- muatan yang diproyeksikan bersamaan dengan kapasitas terapis untuk
menoleransi sesuatu yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi.
Suatu
komponen penting dari sikap menahan diri terapis adalah menunda interpretasi. Identifikasi
proyektif dirancang untuk menyangkal rasa memiliki aspek dari self yang tidak
dapat diterima. Bila terapis bermaksud memaksakan muatan yang diproyeksikan
kembali pada pasien secara premature, maka pasien tidak akan mampu mengetahui
rasa memilikinya. Di pihak lain, terapis yang dapat menampung materi yang
diproyeksikan pasien dan mentoleransi kontratransferensi memberikan kesempatan
bagi pasien untuk mulai mengenali bagian dari dirinya yang ada pada terapis.
Interpretasi yang terlalu dini (premature) dari persepsi pasien sebagai suatu
proyeksi hanya akan memicu penyangkalan dan melumpuhkan usaha pasien untuk
memproses proyeksi tersebut.
Kekuatan
terapis adalah hal terpenting dalam proes penemuan diri pasien. Terapis
diharapkan dapat bertahan, walaupun mengalami transferensi destruktif yang kuat
dari pasien. Saat pasien melihat bahwa abang batas ego terapis tidak mudah
mengalami erosi, ambang batas ego mereka sendiri menjadi diperkuat. Demikian
pula bila mereka melihat bahwa dirinya mulai mampu mentoleransi frustasi dan
menampung perasaan tidak nyaman mereka sendiri tanpa harus memproyesikannya.
Ketika
terapis mampu mengendalikan kontratransferensi- kontratransferensi mereka saat
memenuhi tuntutan- tuntutan pasien, tentunya terapis juga akan mengalami
pertumbuhan dan memperkuat ego mereka sendiri melalui proses yang sulit.
Batasan- batasan yang tegas dan rasional akhirnya akan menurunkan tuntutan
infantile pasien. Saat terapis menolak untuk diidealisasi—dibuat menjadi orangtua
yang sempurna bagi pasien—maka pasien akhirnya akan belajar bahwa mereka harus
mulai belajar menjadi ibu bagi diri mereka sendiri. Harapan untuk menyatu dan
diberi makan dikembalikan ke diri mereka sendiri.
Ketika
mempertimbangkan kesulitan bahwa akhirnya terapis akan menghadapi terminasi
dari proses psikoterapi, perlu selalu diingat bahwa kesalahan manajemen
kontratransferensi yang terjadi di sekitar fase terminasi dapat mengakibatkan
disrupsi terlalu diri dari ikatan terapis- pasien. Hal ini dapat mengacaukan
pertumbuhan psikologis dari terapi atau memperpanjang infantilisasi, yang akan
barakibat kegagalan untuk menganali kebutuhan dakan kemandirian pasien semakin
meningkat.
Sumber:
Kumpulan Makalah Psikoterapi, Sylvia D. Elvira, FK UI, 2005
No comments:
Post a Comment