Pages

Sunday, 26 February 2012

Perpektif Psikologi Kasus Ryan Jombang

Berawal dari terungkapnya sebuah kasus mutilasi di Jakarta pada pertengahan Juli 2008, polisi menemukan hubungan dengan hilangnya 10 orang lain di Jombang. Very Idam Henyansyah alias Ryan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas kasus mutilasi yang menimpa Ir. Heri Santoso tersebut.
Dalam pemberitaan berbagai media, kasus Ryan asal Jombang banyak disebut sebagai psikopat. Psikopat merupakan suatu gangguan abnormalitas dimana gangguan abnormalitas memiliki 3 kriteria antara lain:


lDisfungsi Psikologis : menjalankan peran/fungsi dalam kehidupan ; integrasi aspek kognitif,afektif,konatif/psikomotorik
lDistres ; Impairment (Hendaya) รจ menunjukkan pada keadaan “merusak” dirinya baik secara fisik or psikologis
lRespon Atipikal (Secara Kultural Tidak Diharapkan): Reaksi yang TIDAK sesuai dengan keadaan sosio kultural yang berlaku.




Berdasarkan pengertian secara dikotomis terhadap kondisi kejiwaan individu, maka diperoleh pemahaman atau kesimpulan berkaitan dengan pengertian penyimpangan perilaku seksual sebagaimana dikemukakan oleh Anna  Freud adalah sebagai berikut, penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini  bersifat  psiko logis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
Ryan memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis. dalam perpektif budaya Indonesia, homoseksual adalah sesuatu perilaku yang tidak dapat diterima secara kultural, khususnya kultur jawa dimana Ryan tinggal.

Tindakan membunuh adan memutilasi korbannya juga dapat ditilik dari sudut pandang psikologi kriminal atau psikologi forensic. Mutilasi memiliki beberapa  dimensi, seperti dimensi perencanaan (direncanakan-tidak direncanakan),  dimensi pelaku (individu-kolektif), dan dimensi ritual atau inisiasi, serta dimensi, kesehatan atau medis. Dengan demikian, perbuatan memutilasi tidak dapat  dipukul rata sebagai tindakan kriminal yang dapat dikenakan sanksi pidana.




Nilai Terapeutik Pengelolaan Kontratransferesi


Ide untuk menghindari atau menetralisis kontratransferensi sebetulnya tidak realistik, karena kontratranferensi itu sendiri membentuk keterlibatan terapis dengan suatu matrix termasuk prasangka- prasangka yang dibutuhkan melalui pengalaman seumur hidupnya.
Konsep kontratransferensi telah melalui suatu transformasi. Kontratransferensi sebagai suatu hambatan destruktif secara berangsur- angsur digantikan dengan melihat kontratranferensi sebagai suatu sumber yang berharga untuk memahami pasien. Terlebih transformasi ini adalah akibat dari meningkatnya minat dan perhatian terhadap konsep relasi terapis- pasien—yang berfungsi sebagai suatu forum untuk memerankan kembali pengalaman masa lalu. Pemaparan  terhadap masa lalu telah digantikan dengan perhatian pada apa yang sedang terjadi di masa kini antara terapis dan pasien.
Manajaemen kontratranferensi memiliki suatu efek terapeutik. Kontratransferensi menciptakan suatu lingkungan menahan diri dari pasien, sehingga ia dapat menginternalisasikan suatu bentuk dari ikatan interpersonal. Penampungan yang optimal juga member pasien kesempatan untuk mengenali aspek diri mereka sendiri dalam terapis. Sehingga ketika interpretasi dilaksanakan, pasien mampu menerima dan mendapat keuntungan dengan sedikit sikap defensive. Dengan memiliki bingkai terapeutik memfasilitasi suatu kekecewaan yang penting dalam terapi dengan suatu proses berkabung tentunya hal ini akan diikuti dengan proses penyesuaian diri untuk menjadi pribadi yang lebih matur.

Nilai terapeutik pengelolaan kontratransferesi
Seperti telah disebutkan di atas, keberhasilan menangani kontratransferensi melibatkan pengahayatan proyeksi pasien scara penuh tanpa menjadi terpengaruh seutuhnya sehingga dapat mengakibatkan terapis bertindak secara destruktif. Menurut Carpy, bila terapis memerankan sebagain dari muatan yang diproyeksi pasien, diperbolehkan untuk diamati secara sadar maupun nirsadar oleh pasien, sedangkan yang tidak mampu ditoleransi pasien hendaknya tidak diproyeksikan. Dengan menoleransi kotratransferensi, terapis mendukung perubahan intrapsikis. Pasien melihat terapis, mereka menanggung keadaan efektif yang mereka sendiri tidak mampu menanggungnya. Pengamatan ini membuat perasaan mereka lebih mudah ditoleransi dan memudahkan jalan menuju introyeksi kembali (re-interjection) dari muatan- muatan yang diproyeksikan bersamaan dengan kapasitas terapis untuk menoleransi sesuatu yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi.
Suatu komponen penting dari sikap menahan diri terapis adalah menunda interpretasi. Identifikasi proyektif dirancang untuk menyangkal rasa memiliki aspek dari self yang tidak dapat diterima. Bila terapis bermaksud memaksakan muatan yang diproyeksikan kembali pada pasien secara premature, maka pasien tidak akan mampu mengetahui rasa memilikinya. Di pihak lain, terapis yang dapat menampung materi yang diproyeksikan pasien dan mentoleransi kontratransferensi memberikan kesempatan bagi pasien untuk mulai mengenali bagian dari dirinya yang ada pada terapis. Interpretasi yang terlalu dini (premature) dari persepsi pasien sebagai suatu proyeksi hanya akan memicu penyangkalan dan melumpuhkan usaha pasien untuk memproses proyeksi tersebut.
Kekuatan terapis adalah hal terpenting dalam proes penemuan diri pasien. Terapis diharapkan dapat bertahan, walaupun mengalami transferensi destruktif yang kuat dari pasien. Saat pasien melihat bahwa abang batas ego terapis tidak mudah mengalami erosi, ambang batas ego mereka sendiri menjadi diperkuat. Demikian pula bila mereka melihat bahwa dirinya mulai mampu mentoleransi frustasi dan menampung perasaan tidak nyaman mereka sendiri tanpa harus memproyesikannya.
Ketika terapis mampu mengendalikan kontratransferensi- kontratransferensi mereka saat memenuhi tuntutan- tuntutan pasien, tentunya terapis juga akan mengalami pertumbuhan dan memperkuat ego mereka sendiri melalui proses yang sulit. Batasan- batasan yang tegas dan rasional akhirnya akan menurunkan tuntutan infantile pasien. Saat terapis menolak untuk diidealisasi—dibuat menjadi orangtua yang sempurna bagi pasien—maka pasien akhirnya akan belajar bahwa mereka harus mulai belajar menjadi ibu bagi diri mereka sendiri. Harapan untuk menyatu dan diberi makan dikembalikan ke diri mereka sendiri.
Ketika mempertimbangkan kesulitan bahwa akhirnya terapis akan menghadapi terminasi dari proses psikoterapi, perlu selalu diingat bahwa kesalahan manajemen kontratransferensi yang terjadi di sekitar fase terminasi dapat mengakibatkan disrupsi terlalu diri dari ikatan terapis- pasien. Hal ini dapat mengacaukan pertumbuhan psikologis dari terapi atau memperpanjang infantilisasi, yang akan barakibat kegagalan untuk menganali kebutuhan dakan kemandirian pasien semakin meningkat.

Sumber: Kumpulan Makalah Psikoterapi, Sylvia D. Elvira, FK UI, 2005

Sunday, 19 February 2012

Definisi Abnormal

Salah satu tantangan tersulit yang dihadapi mereka yang terjun di bidang psikologi abnormal adalah mendefinisikan prilaku abnormal. Disini kami mempertimbangkan beberapa karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abnormal. Kita akan melihat bahwa satu karakter tunggal tidaklah cukup, namun masing masing berperan dan mencakup beberapa bagian dari kemungkinan definisi lengkapnya. Konsekuensinya, abnormalitas umumnya ditentukan berdasarkan munculnya beberapa karakteistik sekaligus. Definisi terbaik yang kami berikan menggunakan beberapa karaktersitik, antara lain : kejarangan statistic, pelanggaran norma, distress pribadi, ketidakmampuan atau disfungsi, dan respon yang tidak diharapkan (unexpectedness)

Kejarangan Statistik
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah perilaku tersebut jarang ditemukan. Kurva normal, atau kurva berbentuk lonceng, menempatkan mayoritas manusia di bagian tengah dalam kaitan dengankaraktersitik tertentu; sangat sedikit yang berada di bagian kedua ekstreem. Perkataan yang mengungkapkan bahwwa sesorang normal merujuk bahwa orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata- rata pola trait atau perilaku tertentu.
Kejarangan satistik digunakan secara eksplisit dalam mendiagnosis retardasi mental. Walaupun sejumlah criteria digunakan untuk mendiagnosis retardasi mental, inteleggensi rendah merupakan criteria utama. Bila IQ seseorang dibawah 70, funsi intelektualnya dinilai cukup dibawah normal untuk disebut sebagai retardasi mental.
Walaupun beberapa perilaku atau karakteristik yang jarang terjadi terdapat pada orang- orang tertentu kita anggap sebagai abnormal, dalam beberapa kasus tidak terdapat hubungan sama sekali. Memiliki kemampuan atletik yang hebat merupakann seesuatu yang jarang terjadi, namun beberapa orang menilainya sebagai bagian dari psikologi abnormal. Hanya beberapa prilaku tertentu yang jarang terjadi, seperti mengalami halusinasi atau depresi yang mendalam, masuk dalam lingkup yang dibahas buku ini. Sayangnya, komponen statistic memberikan sedikit panduan  bagi kita dalam menentukan perilaku mana yang jarang terjadi yang harus dipelajari para psikopatolog.

Pelanggaran norma
Karakteristik lain yang dipertimbangkan dalam menentukan abnormalitas adalah apakah perilaku tersebut melanggar norma sosial atau mengancam atau mencemaskan mereka yang mengamatinya. Perilaku antisocial dan psikopat juga sesuai dengan definisi ini, sebagaimana dengan ritual kompleks yang dilakukan para penderita obsesif kompulsif dan percakapan pasien psikotik dengan suara khayalan. Namun, tetap saja komponen ini terlalu luas sekaligus terlalu sempit. Perilaku kejahatan dan pria/wanita tuna susila melanggar norma sosial, namun umumnya tidak selalu dipelajari dalam psikologi abnormal; dan orang sangat pencemas yang umumnya dinilai sebagai karakter utama psikologi abnormal, umumnya tidak melanggar norma sosial dan tidak mengganggu banyak orang yang mengamatinya.
Selain itu, keragaman budaya dapat memengaruhi bagaimana orang orang memandang norma sosial dalam suatu budaya mungkin dianggap abnormal dalam budaya lain.

Distress Pribadi
Karaktersitik dari beberapa bentuk abnormalitas adalah tekanan pribadi yaitu, perilaku dianggap abnormal jika menciptakan siksaan dan tekanan besar pada orang yang mengalaminya. Distress pribadi jelas sesuai dengan banyak bentuk abnormalitas—orang – orang yang mengalami gangguan anxietas dan depresi benar- benar menderita. Namun, beberapa gangguan tidak selalu menyebabkan distress. Psikopat, sebagai contoh, memperlakukan orang lain tanpa perasaan dan mungkin terus- menerus melanggar hokum tanpa sedikitpun merasa bersalah, menyesal, ataupun cemas. Dan tidak semua bentuk distress—sebagai contoh, kelaparan atau rasa sakit ketika melahirkan—menjadi bagian dari bidang ini.

Disabilitas dan Disfungsi Perilaku
Disabilitas, yaitu ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting (misalnya hubungan kerja atau pribadi) karena abnormalitas, juga menjadi komponen perilaku abnormal. Gangguan yang berkaitan dengan penggunaan zat sebagian ditentikan oleh disabilita sosial atau perkerjaan (misalnya kinerja ynag rendah di tempat kerja, pertengkaran yang serius dengan pasangan) yang disebabkan penyalahgunaan zat. Secara sama, fobia dapat menyebabkan distress atau disabilitas, sebagai contoh, ketakutan naik pesawat yang parah menghambat seseorang memperoleh promosi jabatan. Seperti halnya penderitaan, disabilitas terjadi dalam beberapa, namun tidak semua, gangguan. Sebagai contoh, transvestisme (memakai baju lawan jenis untuk mendapatnkan kenikmatan seksual), yang saat ini didiagnosis sebagai gangguan mental jika menyebabkan distress bagi yang mengalaminya, bukanlah suatu disabilitas. Sebagian besar penderita transvestisme menikah, menjalani hidup yang wajar, dan biasanya memakai baju lawan jenis secara sembunyi sembunyi. Karaktersitik lain yang dalam beberapa situasi dianggap sebagai ketidakmampuan—misalnya betubuh pendek, padahal Anda ingin menjadi pembasket professional—tidak termasuk dalam bidang psikologi abnormal. Sebagaimana disabilitas, kami tidak memiliki aturan yang menentukan disabilitas seperti apa yang dianggap normal atau abnormal.

Yang Tidak Diinginkan (Unexpectedness)
Kami telah menjelaskan bahwa tidak semua distress atau disabilitas masuk dalam bidang psikologi abnormal. Distress dan disabilitas seringkali dianggap abnormal bila hal tersebut merupakan respons tidak diharapkan terhadap stressor lingkungan (Wakafield, 1992). Sebagai contoh gangguan anxietas didiagnosis bila kecemasan tidak diharapkan dan di luar proporsi damam suatu situasi, sebagaimana bila seseorang selalu cemas akan situasi keuangannya. Kelaparan, disisi lain, merupakan respons yang tidak diharapkan bila kita tidak makan sehingga tidak termasuk dalam kondisi distress yang relevan denga perilaku abnormal.
Kami telah mempertimbangkan beberapa karaktersitik kunci dari definisi perilaku abnormal. Sekali lagi, tidak ada satu karakter tunggal yang menghasilkan definisi yang memuaskan, namun secara bersama sama memberikan kerangka kerja yang bermanfaat untuk memulai definisi abnormalitas.
Sumber: Psikologi Abnormal, Gerald C. Davison – John M. Neale – Ann M. Kring, 2010